Wednesday, August 12, 2015

Darker. (1)

every crisis ever.
every year.
every. single. damn. year.
ketika ngerasa setiap tahunnya adalah "well, it must be THAT worst year",
and give no shit its still counting. getting darker.

ada saatnya kamu ada di posisi dimana relatives dan temen temen kamu pacing nya makin cepet dalam hidup, dan kamu termasuk yang ketinggalan.dan berantakan. outspeed af.
ada yang udah kerja dan punya penghasilan lumayan.
ada yang udah married ( well idgas to it doe, but it eventually marked your twenties so bad ).
ada yang udah lulus dan punya plan lanjutan yang oke.
atau ada yang punya rintisan bisnis yang keren.
biasanya i dont give a damn abt it, srsly.
but i understand that feel.
the feel of being the last person,
the pain that unconciously choking my neck even deeper.

ada waktunya pelarian spritual yang biasa kamu lakukan juga gak bakal mempan,
karena kalah binal dari kejadian yang terus menimpa.
gak akan nyebut ini musibah, karena sebagiannya bakal lebih cocok bila disebut ujian.
dengan ujian sebegini kompleks nya, apa aku jadi manusia yang jauh lebih hebat dari ujiannya?
jadi manusia yang jauh lebih unggul dari manusia dengan ujian yang tidak lebih berat denganku?
what if i fail? at ALL?

semuanya tibatiba mengerucut jadi satu pertanyaan ;
do i deserve a thing? a single fucking thing?
deserve a thing dat i wished for?

well its kinda freaked me out a LOT.
i have so many things to do,
so many plan that i wish it got real for some reason.
dan semuanya berantakan. dihancurin banyak hal.
just when i thought i do the rightest thing, it backfired me.
every fucking times.

FIRST ; about my college environment.
makes me wanna punch the fuckin. damn. door.
do i looks like a clueless moron for being different in college?
A HELL NO!
i think i do the best possible way to show that our department needs to go broader than we thought.
i KNOW what am doing, because other univ gradually increase their qualities.
kita kalah jauh dari banyak univ dengan jurusan yang sama, dan ngerasa lulusan angkatan 2011 ini lumayan kena dampaknya.
our standard is old damn low. and its a shame.
okay, mgkin banyak yg nganggep dengan aku lulus telat, aku g qualifies dgn standar ku sndiri.
but hey, if its the process to be a far better person in quality, why not? okay, fuck that.
semakin ikut banyak lomba, semakin ngerti kalau persaingan di luar itu real.
hasil karya kita adalah cerminan hasil pengkayaan referensi dan proses kreatif kita, salah satunya di universitas. and i swear to God, diluar sana banyak karya karya keren parah.
jujur aku turut bahagia banyak teman yang bisa lulus tahun ini.
tapi di saat yang bersamaan juga ngerasa sayang banget krn mereka bisa lebih dari itu.
y know, bukannya aku bisa baca orang atau begimana,
angkatan 2011 ini punya potensi dgn sense design yang harusnya bisa lebih dari garapan tugas akhir mereka sekarang.
dan nyatanya personally i think mereka jadi terbatasi karena di uncon mereka, kondisi bawah sadar mereka, jadi segan sama deadline dan mengamini itu, daripada proses kreatif mereka.
hey, this is a DESIGN SCHOOL. mahasiswa bukan robot.
robot yang aktif hanya karena segan sama perintah.
i hope our department knew that, because i blame them. bukan mahasiswanya.
modern-based study my ass.

back to my story, i got kicked from DI 5 for the second consecutive times, for the record.
and i was like, questioning it so hard. goddamn hard.
the first failure ; ngumpulin lengkap tapi telat.
the 2nd failure ; ngumpulin lengkap, g telat, tp dianggep g pernah asistensi.
i dont blame the lecturers, i respect them.
but the motives and the reason, oh come, ON! i need the LOGIC.

the 1st failure got me like , 'okelah emang salah karena telat itu g ada toleransi'
karena pas itu emang mikir akan lebih baik nglengkapi dulu baru ngumpulin.
usaha kita nglengkapin sesuatu menurut w adalah salah satu bentuk kita respek terhadap apa yang mrk ajarkan, krn menurut w kualitas kerja kita itu salah satunya mencrminkan apakah ajaran beliau2 ini berhasil kita terapkan dgn baik atau tidak.
tapi kebanyakan yang dikasih apa, dapetnya apa. timpang.
memang tak akui, kalau aku orang yang pacing nya slow dalam kerjaan,
tp lebih ke "aku pingin nunjukin kualitas yang seharusnya aku capai",
bukan karena "oke pokok e beres. done"
done ndasmua. im not dat kind of person for FUCK SAKE.
ada beberapa gimik yang sempet kecewa berat dngan dosen saat itu padahal beliau got my respect all the time, bcs you know, beliau bener bener support sama standar ku yg lebih ke arsi.
pada akhirnya beliau nolak kerjaanku mentah mentah tanpa mau NGELIAT dulu. oke aku gak masalah ngulang karena emang telat and that is my consequence, tapi beliau malah bilang "jagan taruh meja saya, ngebek-ngebek i meja saya lak an". kalian tau kerjaan itu pake uang yang gak sedikit, and it got me like langsung buang semua kerjan seharga 400rb itu ke tempat sampah depan ruang dosen. ak ngerasa g lebih dari sampah dgn perlakuan yang aneh macam itu. he should appreciate more by telling my fault in a better possible way. i dropped my respect even further karena temen saya sempet bilang kalau kata beliau aku sebaiknya ngumpulin karyaku dulu APA ADANYA biar dapet nilai.  A HELL NAH ! i risk my whole bedtime for this, to be a better person in qualities and you say "apa adanya"? sorry once again im not dat kind of prson. well ini udah kedua kalinya dgn dosen yang sama dgn kasus telat.

the2nd failure lebih aneh lagi. lemme tell you the truth satu demi satu.
ngeliat apa yg terjadi dari kejadian pertama, pastinya gak mau fail lagi karena DI 5 ini proyeksi dari TA ku nanti. yang pertama aku lakuin adalah ngurangi sifat eksploratif yang serba postmo jadi arsitektural yang lebih sleek dan edgy krn ak harusnya ngerancang dgn refernsi yg aku ngerti krn nanti bakal jadi pertanggungjawaban di sidang TA nanti. karena dari itu akhirnya bikin arsitektur yang baru namun tetep dari kajian lama karena gak perlu ngubah lagi preview 1 nya. dosen pembimbing juga ganti, so it sounds a good plan. tp emang maslahnya disini ; pendekatan kerja orang itu masing2 beda beda. the problem is, asistensi yang terjadwal itu juga menuntut kita mencapai target tertentu, sedangkan my working method are doing it backward. kalau di proses "biasa" itu dimulai dari gartek menuju 3D, aku malah sebaliknya karena akan lebih ngehemat waktu tapi dengan kualitas yg gak kalah. im pretty damn sure kalau anak anak pas TA ini diam diam ada yang mengamini itu. nyatanya dosen kurang terbuka dengan pendekatan yang beda dan belum umum itu, yang pada akhirnya kurang sinkron sama proses asistensi. it went well tho smpai pada akhir semester, sidang. jadi ada 2 dosen penguji yang satunya dosen pembimbing. di dosen penguji pertama ini sangat mengapresiasi karena beliau orang yang "ngerti" reputasi mahasiswanya. everything went great bahkan beliau ngasih tau nilai di form penilaian yang seharusnya g boleh ditunjukkan. at that time im sure the final score are gonna be good karena beliau ngasih nilai range 85-92. nilai berapapun dari penguji kedua alias dosen pembimbing yang masuk setidaknya masih lulus lah. but smthing strange starts here.

yang pertama, keputusan aku bakal dapet nilai karena menurut beliau aku masih ada beberapa salah dan bakal dinilai pas ngumpulkan revisi. ok tak turuti. tak revisi apa apa dari mereka berdua dan akhirnya dikumpulkan sesuai jadwal. yang aku tau beliau mau umroh pada jeda waktu setelah itu and im just waiting for the score. pas nilai keluar, i got D. WHAT THE HECK. i assure you i wont ever complaining if it was my fault. i thought i did it all the things he told me to. ngumpulnoe gak telat pisan fak. pada akhirnya w ngadep dosen terkait dengan harapan w dapet alasan logis kenapa bisa dapet D, padahal nilai dari dosen satunya lumayan bagus. dengan hitung2an anak kecil pun range nya gak akan dapet D. dengan konfirmasi awal ke dosen koordinator sbg dosen dgn kapasitas yang pegang nilai, beliau nunjukin nilai kalau ternyata nilai akhir setelah di rata rata adalah sekitar 40-an. makin bingung, akhirnya ngadep dosen pembimbing karena dosen koor cuma terima setoran nilai dari dosen penguji. setelah tanya kejelasan ttg nilai ke dosen pembimbing, beliau cuma bilang "wah roliandi, punyamu gak ada yang bisa dinilai ini, akhirnya saya kasihkan ke pak Mahe (dosen koor) buat nilai aja, saya pusing." WHAT KIND OF ANSWER IS THAT. g bisa nyalahin dosen koor krn beliau cuma ngitung rata rata dari nilai yang dipegang penguji. everything seems to get awkwardly complicated buat dosen pembimbing saya seraya beliau lgsg buka buka kerjaan w. the worst thing is, ak isok nebak kalo beliau baru ngecek SAAT ITU JUGA karena beliau seakan baru buka itu dan coba coba cari kesalahan. for ex ;

Mr. B : "mana ini alternatif ruang terpilih nya kamu gak ada ini"
A : "bukannya perancangan 5 cuma stop sampai plotting ruang pak ya?"
Mr. B : "emang kamu TA gak pake ruang terpilih nanti?"
A : (wtf) "ya... pake pak. tapi target silabus aja cuma sampai situ, anak anak juga gitu,.."
Mr. B : (langsung ditikung) "ya gak bisa gitu itu bandingin sama anak anak lain, sbg dosen itu subjektif namanya."
A : (heavy exhale af) "tapi saya lebih lengkap dari anak anak pak. saya ngumpulin maket arsitektur" (sambil nunjuk dibelakang bapaknya, terus bapaknya kaget. i bet that was his FIRST TIME checked it.)
Mr. B : "maket apa ini, bukan gini maketnya. ini maket arsi namany bukan interior."
A : "lhah dimana mana bukannya pemahaman eksternal baru internal pak ya?"
( im assure you dat these is the most logical statement abt arch and interior as a mutual approach)
Mr. B : " apa ini, bukan lah. salah kamu ini bla bla bla bla...."
A : ( ARE YOU OUT OF YOUR GODDAMN MIND, BRUH?!!! ) "...."

setelah sekian tanya jawab yang gak masyuk dan bener bener gak rasio, akhirnya ;

A :"oke, jadi gini pak... saya berkesimpulan begini. setelah segala macemnya, saya berasumsi kalau punya saya ini (sambil nunjuk kerjaan), gak dinilai pak ya?"
Mr. B : "lho kata siapa belum dinilai? sudah keluar itu nilainya kan?"
A : ( OKAY I DONT FUCK FURTHER WITH THIS MINDLESS CONVERSATION SO DAT I SHOULD STOP THIS ALREADY AF) (exhale) "oke pak, saya cuma mau bilang begini. dari awal saya gak pernah expect dapet AB atau B sekalipun karena menurut bapak pasti tau sndiri saya banyak kurangnya. saya kurang mengerti patokan penilaian bapak darimana karena menurut dosen lain kualitas saya setidaknya sudah memenuhi syarat. cuma begini, kalaupun saya dapet 60, ya bapak tulis 60. bukan tidak dinilai seperti ini. maaf pak saya gak ngepush gimana gimana. saya cuma mau tahu kenapa saya dianggap tidak lolos kualifikasi mata kuliah ini dengan kualitas yg sudah baik. terimakasih pak sebelumnya."

my conclusion is obvious ; NILAIKU NOL. which is WRONG IN MANY WAYS.
paling logis mengingat rata rata ku jadi setengah dari nilai dosen penguji pertama. i knew dosen pembimbing takut repot ngurus perubahan nilai yang ribet. ditambah ada miskom dimana beliau menanggap aku minta waktu buat ngeralat untuk perubahan nilai. GAE OPO.
i did my best out there. iku lak gae seng telat. and here we goes i got screwed up again.
pembelaan terbaik dari beliau setelah itu cuma "kamu belum terlalu fatal kok untuk lulus telat."
TRY EXPLAIN DAT TO MY FATHER. matane a. gakroh a lek aku setaun iki struggle hidup gak pake kiriman sama sekali bcs the earlier failure.

the hatred is growing.






Sunday, March 8, 2015

Peramu-ka

hutan,

rindu itu lahir dari rasa sakit.
sakit karena tak kunjung mampu mengusahakan.
sedang yang dirindukan sudah pasti candu.
candu penawar rasa sakit itu.
sekaligus heroin bagi hari - hari yang lain.

rindu wangi pinus.
ngisep.

Saturday, November 8, 2014

Njarem

akhir-akhir ini agak kaku.
kekurangan daya untuk mengamini "yes, abis quick getaway ! bisa entengan dikit nih balik rutinitas".
padahal dalam seminggu ini habis dari jogja dan bromo, men.

pada saat yang sama, ngerasa bisa capek juga.
post-states nya secara fisik ya pasti letih.
tapi inner jadi ikut-ikutan mayak dengan nakal berpikir kalau,
"sama-sama capeknya gini, apa bedanya sama rutinitas yang selalu dihindari?"

it's like,
rasa letih itu juga yang berusaha mengingatkan,
jika liburan sekalipun juga ciptaan realitas yang butuh effort.
mungkin daily stucks juga ikut-ikutan gak mau kalah dengan,
"aku bisa menghantui kapan saja, dan kamu gak bisa menghabisiku dengan cara yang sama berkali-kali."
dari situ mungkin diri ini dituduh,
kalau memang.....

ah udahlah.
tidur tipis-tipis dulu.
makin dipikir malah makin membahayakan diri sendiri.

Friday, August 29, 2014

Larut

sudah seminggu Budhe meninggalkan kami.
dan tampaknya segenap sanak keluarga sudah mampu merelakan.
tegarnya (mungkin) sebatas di pelupuk mata.

kematian, ya.
mungkin Allah juga tidak tega dengan Budhe yang sedari awal sudah pasrah.
andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe.
sebenarnya Budhe sudah menunjukkan tanda-tanda positif pasca Lebaran kemarin.
kedatangan semua (tanpa kecuali) keluarga menjenguk ke rumah,
Budhe sudah mendingan.

tapi,

("tapi".
agak benci juga dengan kata ini.
sebaik-baiknya diksi dan nilai kalimat yang diantar,
"tapi" ini Siwa.
mampu menjungkirbalikkan apa yang dirasa sudah benar dan sebaliknya.)

penyakit itu sudah merambat keras ke paru-paru.
1-2 hari sebelum Budhe dijemput, Budhe memang mengaku sesak.
kata Ayah kondisi seperti ini sudah gak bisa diapa-apain lagi.
cepat atau lambat, kita "dipaksa" merelakan.
manusia (mungkin) tak selamanya siap.

makin benci lagi.

----------------------------------------

"andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe."
darisitu mungkin "kehendak" punya andil dengan takdir.
meski takdir tersebut ialah garis tipis diantara dunia dan maut, sekalipun.
banyak orang yang mampu survive dari kanker, salah satunya teman ayah,
karena ia memang MAU.
kita bicara human will. kemauan.
meski itu rasa sakit sebagaimanapun.
dimensi rasa sakit yang mereka rasa orang lain gak bakalan ngerti,
dengan rasa sakit mereka.
disitu mereka menciptakan ruang.
ruang untuk melawan krisis mereka.
dan saya yakin,
Allah selalu punya rencana yang lebih baik kepada hamba-Nya yang punya kehendak lebih.


tugas kita disini sebagai yang bukan pengidap cuma satu.
menjadikan diri kita sebagai keluarga yang mereka butuhkan di saat APAPUN.
saat malam Budhe hampir kesulitan untuk tidur.
plus, kemo rutin yang harus dijalani.
kita sbenarnya harus ada disana,
walau kita tidak harus masuk ke "ruang" mereka untuk survive.


riwayat hidup yang berat, memang. sangat berat malah.
sebenarnya keluarga keseringan kehabisan kata-kata.
se positif apapun sugesti, afeksi nya gak akan benar-benar sebesar itu.
kadang Budhe menyimpan rasa malu akan penyakitnya,
padahal itu gak perlu ! sama sekali enggak.
sebagai keluarga kita cuma mau melihat semuanya jadi lebih baik. gak lebih.
rasa malu itu hanya akan menutup ridlo dari Allah.
jatuh yang gak akan benar-benar jatuh,
bila Budhe benar-benar mau bangkit.
dan gak mau terkenang dalam kondisi menyerah.

------------------------------------------------------------

tapi apapun itu, mungkin ini rencana terbaik dari Allah.
yang penting almarhum Budhe sekarang sudah bersandingan dengan Pakdhe disana.
untuk saya sendiri, ini pelajaran sangat penting.
begitu krusialnya kita sebagai makhluk sosial ,
yang pada hakikatnya kita harus menjaga dan menyayangi satu sama lain.
siapapun itu. karena apapun itu.
tanpa alasan yang dibuat-buat.
tanpa kepura-puraan.
murni tulus.


semoga yang terbaik buat semuanya.
Amin.

Sunday, August 10, 2014

Jogja Super Quick Vacay

Hari ini, ceritanya saya (harusnya) kembali balik ke Bandung. Akan tetapi, rencana ya hanyalah rencana. Keadaan dan momento selalu gak punya tempat yang jelas, bukan? Dia bisa datang tiba-tiba, pun demikian dengan kisah perjalanan balik saya kali ini. Entah kenapa, keadaan yang super ribet bagi saya ternyata punya makna yang lebih besar dari yang kita kira. Dimulai dari uang yang kepepet, lupa mempersiapkan pegangan uang yang cukup, hingga kenapa saya memilih bus regular dibanding bus malam adalah akumulasi situasi yang benar-benar menggiring saya berkelana semalam di Yogyakarta sekarang.


Entahlah, untuk uang yang kepepet ini adalah sesuatu yang diluar rencana, namun hal itu adalah akibat  dari perencanaan lain. Kok? Ya karena sebenarnya uang bulanan saya, khusunya untuk bulan Agustus ini, (dimana sebenarnya uang bulanannya ya buat biaya hidup di Bandung) sudah ter alokasikan untuk memperbaiki total speda motor yang tidak saya pakai selama hampir 4 bulan (dan sejak saat itu saya kemana-mana dengan kaki Bengal saya, kemanapun). Plus, sudah saya belikan untuk tiket pulang nanti ke Surabaya pada bulan September. Damn ! I felt so relieved sekaligus cemas. Yang pasti sisa uang bulanan gak lebih dari 250ribu , dan seenggaknya saya sudah harus sampai Bandung dengan uang segitu, which is, sebenarnya kondisi tersebut masih normal dengan asumsi saya naik bus regular dengan sistim oper. Yaaaa semua itu juga gak lepas dari habisnya tiket kereta jarak jauh langsung maupun sistim oper hingga seminggu ke depan. Sedangkan, minggu ini saya sudah harus ada di Bandung. Well, I counted those “financial massacre” as disturbing moment. Seenggaknya buat sekarang. Eh tadi, ding.


Lupa mempersiapkan pegangan uang yang cukup adalah satu kebodohan luar biasa. Dari awal saya Cuma pegang 300 ribu di dompet. Sedangkan saya seenggaknya ada simpanan buat jaga-jaga sebesar 200ribu di tabungan.gak sempat mampir atm karena nguber bus pagi-pagi juga di Terminal Bungurasih Surabaya. Bodohnya lagi, saya yang harusnya naik bis ekonomi Mira, malah naik bus patas AC Eka. Well serviced sih, tapi duit langsung bodong, 87 rebu amblas. Blah. Darisna dengan beli jajan-jajan di tengah jalanan,jadi sisa tinggal 200rb an lah. Monyongnya lagi, saya berharap ada atm center di Terminal Giwangan nanti ! daaaaaan, udah ketebak deh. Ternyata kagak ada tuh yang namanya ATM Senter. Ive got punk’d ! mana daerah terminal itu jauh dari distrik ramai kota, hampir kayak jalanan Gedebage gitu. Pas tanya Information Center, katanya gak ada ATM Center. Paling deket ya ATM BRI, tapi lupa daerah mana tuh lupa. Pas Tanya ATM Mandiri, katanya ada tuh di KotaGede. Pas tukang ojek nawarin jasa anter kesana, dengan angkuhnya saya bilang “mboten usah pak, tak mlampah rumiyin”. Alhasil dan singkat cerita, akhirnya saya sampai di KotaGede dengan tepar berbusa. ADOH NEMEN BERO TULUNG !


Darisana sebenarnya masalah terselesaikan ; dapet pegangan duit cukup. Masalahnya, malesbanget mau balik Giwangan, apalagi jalan kaki. Capek sih enggak, tapi sekelebat ajanih, saya ngerasa kalau naik bis saat itu juga ( nyampe Jogja nya Maghrib, di Kotagedenya jam Isya’), bakal nyampainya Subuh kalik. MAL-HES. MENDING JALAN-JALAN DULU DI JOGJA ! WOOOOOOOO !!


Goddamn brain. Bisa-bisanya keputusan dadakan berubah menjadi betapa menyenangkannya pilihan yang diambil itu. Akhirnya dari KotaGede naik tuh yang namanya TransJogja. Naik 2 kali dari KotaGede trayek 2A truun Bonbin Gembiraloka, terus oper trayek 1B turun taman pintar. 2 kali oper Cuma bayar 3 rebu, mungkin kalo opernya langsung dishelter  transit kayaknya gak bakal bayar lebih deh. Kayaknya. Sekalian nanyak juga TJ terpagi jam berapa, karena besok pagi kan saya harus balik Giwangan lagi buat balik Bandung. Katanya jam setangah 6 pagi. Lumayan lah, MALEM INI KITA JALAN-JALAN DI JOGJA ASOY !


Well, saya nulis cerita ini dari KFC Malioboro, whereas wifi nya pelit banget, status konek tapi gak nyambung internet, anying. Jadi saya turun tuh di Halte Taman Pintar, kan doi tempatnya diantara Malioboro sama area Keraton. Ya jadi saya kearah Keraton dulu, baru balik nyusurin sepanjang Malioboro.


Well, meskipun Cuma semalem. Saya bahagia banget bisa disini. Udah beberapa kali pingin kesini gak jadi terus. Sampai disini pun atmosfirnya sukses bikin saya merinding haru. Alhasil, di lapangan Keraton ane KETAWA NGAKAK HABIS-HABISAN GAK PEDULI ORANG BAKAL BILANG APA. There is darn-good feeling inside, I tell you. Suasananya, crowdnya dan lainnya. Yah, mungkin yang udah sering disini, kuliah disini, dan tinggal disini gak bakal se-lebay saya ya hehe yaaaaa tapi dari hal sederhana tersebut saya mampu tergelitik olehnya, dan lumayan sukar juga untuk tidak sumringah :)) itungannya Jogja by Accident inisih, kapan-kapan deh kalau ada waktu lagi nanti bakal direncanain lebih mateng lagi bakal mau kemana-mananya. Yaaaa itung-itung memperkaya portofolio lone-travelling saya enggak sih?



By the way, udah lama banget gak get lost sendirian gini. Dulu saya setia bawa sketchbook tuh sebagai media dokumentasi. Syaang banget karena saya sekarang lebih merindukan kamera, karena urgensinya yang lebih cepet. Andai waktu luangnya sebanyak lampau, ya saya bakalan bawa sketchbook ya? Well, seenggaknya tanpa dokumentasipun, feeling saya disini direka ulang dengan optimal. Detil feeling yang subtil akan sekitar mulai terbangun , dan saya seneng banget dengan hal itu. Ah, lain kali harus ngajak siapa gitu kek, kalo gak ada ya sendirian aja cukup. Karena yang nikmatin ya kita sendiri , kan? Hahaha udah deh, CIAO !

Friday, July 18, 2014

Tipis

lagi-lagi ayah telpon,
entah untuk yang ke-berapa kalinya selama Ramadhan.
dan topiknya tetap sama.
keadaan adik ayah yang semakin kritis dari hari ke hari.
keadaan yang semakin getir bila selalu dibicarakan berulang-ulang.
ketakutan yang semakin terpupuk karena...
gentar bila tidak akan bertemu lagi saat lebaran.
gentar bila tidak sempat pulang hanya untuk mengucap maaf.
gentar bila semuanya terlalu serba terlambat bagi ayah.
gentar bila semua beban moral keluarga harus ia tanggung,
tanpa berpura-pura jika ia sangat, sangat terpukul.


ill brief myself again.
kondisi yang benar-benar membuat seorang Roliandi Bagas,
sulit untuk mengucap.
satu titik dimana kata motivatif pun jadi bias.
karena ia tahu, sebenarnya itu tidak akan merubah apapun.
karena ia tahu, ia tidak berhak bicara karena ia,
tidak ikut mengidap dan tidak mungkin bisa merasakan hal yang sama.
begitu menyakitkannya lagi,
karena ia hanya bisa melihat dan mendengar.
tanpa bisa BENAR-BENAR berbuat apa-apa.
yang berguna.
posisi berdiri yang diam, marah karena dirinya sangat tersia.


saya sendiri bakal sangat sulit membayangkan anak budhe,
dalam setahun harus ditinggalkan orang tuanya begitu cepat.
dan dua-duanya karena penyakit yang tidak bisa dilepas ;
kanker.
belum lagi potensi bibit kanker yang mungkin tertanam jua.
setelah sang ayah meninggal, budhe sendirian.
dua anaknya kerja dan kuliah di luar kota.
sendirian sepanjang hari di rumah,
pasca ditinggal sang mendiang suami.
sangat sedih sekali hanya untuk membayangkan,
bagaimana hampir tidak mungkin untuk tidak meratap.
kondisi yang akan semakin memperburuk psikis,
hasilnya ya seperti sekarang ini.
sistem imun menurun.
tersiksa begitu hebatnya tanpa bisa berpura-pura tegar.



begitu santainya kita dalam hidup
karena mati jadi isu yang tidak pasti kapan.
orang-orang terlalu siap untuk hidup.
tanpa mau tahu mereka akan mati kapan dan bagaimana.
sedangkan pengidap kanker seperti budhe?
getir.
satir.
saat dokter bilang "ibu akan baik-baik saja."
sedari awal dokter sudah sangat luar biasa menanggung tanggung jawab moral,
dengan berbohong.
semua pasiennya tahu, semua yang bakal dikatakan itu klise.
budhe tahu, hidupnya tidak akan lebih lama dari yang lainnya.
mati mendadak jadi titik yang sangat pasti.
kita tidak akan pernah siap, katanya.
ya. itu benar.
kebenaran yang menyakitkan.
aku benci absolutism yang selalu diluar jangkauan manusia.
benci sekali.



darisana perilaku pengidap mengambil peran.
ayah tahu, kehilangan suami dan diagnosa kanker...
dalam waktu sangat dekat bagi seorang perempuan,
ialah satu kondisi yang sangat-sangat....
sulit terdefinisikan.
ayah terus menerus memberi support,
untuk tidak terus larut dalam kehilangan.
karena itu adalah hal yang bisa membuat kesehatan budhe makin kritis.
budhe masih ada anak yang masih progresif untuk mencapai sukses.
sang anak tentu berjuang sedemikian rupa,
untuk membalas budi dan membanggakan orang tuanya.
sang anak tidak ingin kehilangan lagi.
sang anak ingin orang tuanya tetap hidup hingga saat itu tiba.
begitu juga kami. dan kamu.
untuk tetap HIDUP.
dan ENGGAK MENYERAH.
tapi, siapa yang bisa menyalahkan sikap kita untuk kehilangan?

dalam beberapa situasi, serba kompleks.
sulit.
bingung.

.
.
.

hingga pada suatu ketika teman saya sempat berkata,
terkenang dalam kematian yang sedih,
bukan kepastian yang selalu mengiringi kondisi pengidap kanker pada umumnya.
tidak ada seorangpun di dunia ini yang menghendaki demikian.
kematian yang terkenang dengan kondisi menyerah.
begitupun seharusnya dengan budhe.
ia sebenarnya punya pilihan.
pilihan untuk tidak lagi membuat sekitarnya merasa sedih.
ia lupa berjanji untuk itu.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
budhe, semoga masih bisa bertemu lebaran nanti ya.


Sunday, July 6, 2014

Lagi.

di Lapangan Gasibu pasca buka puasa tadi, lonewalking.
sedikit meratap.
riuh.
war wor suara tracker.
lalu lalang.
lampu jalan turut menambah kesan abstraknya.
pusat kota ini tidak cukup megah untuk menjadi pusat peradaban kota, ternyata.

setelah sekian hari di Bandung, akhirnya punya banyak waktu sepi.
baru kali ini tampaknya.
dengan kesendirian, saya canggung.
malu-malu :)

seperti rumus tensi rendah pada umumnya,
existence + space = time.
dimensi ada dari objek dan peristiwa yang diruangkan ulang,
tersusun menjadi satu bentuk kesadaran yang utuh,
namun tidak eksis dalam waktu yang bersamaan.
teoretik.

----

Usia yang terlewat begitu saja sebenarnya menyebalkan.

sedalam-dalamnya langkah yang tertinggal sejatinya ya, begitu saja.
kadar dari tiapnya selalu berbeda. tapi rasanya hampir selalu sama.
sama-sama tidak mungkin untuk tersentuh (kembali).
ditambah kehadiran realitas yang masih kamu raba dengan ragu,
apalagi yang lebih menyebalkan dari memoar,
puluhan tahun pengalaman dengan ringkasan belasan menit?

agak satir.
rasanya kita hidup dihimpit eksistensi nol.
gak ada yang benar-benar berwujud dan nyata,
semuanya terlalu komprehensif.
terlalu luas.
terlalu spekulatif.
indrawi kita cuma alat.
alat permanen dengan fungsi respon temporer.
realitas itu muncul hanya pada saat kita benar-benar merasakannya.
kita,
titik presence dan titik tengah yang terus berjalan.
apa yang sudah dan belum teralami,
layaknya ilusi.
bila waktu adalah objek statis.
usia mungkin subjek yang dinamis.
dinamis non-eksis.

menyebalkan.
mungkin semuanya tak harus terjelaskan.
terjelaskan dengan struktur yang terorganisir.
definitif teoretik.
raga kita mungkin terlalu rapuh untuk itu.
dan jiwa kita terlalu sempit untuknya.

pemikiran ini terlalu tersia.
setidaknya kali ini waktu dan dimensi realitasnya,
tidak mencapai dimensi kesendirian,
dengan segala hal yang dianggap tidak punya eksistensi.
waktu juga bisa reot dan menyerah rupanya.

menyebalkan, eh, detik? :)





18.23, diantara dua adzan, anak kecil lari-larian.

Saturday, April 19, 2014

Hey.

hey.
agak lucu juga dengerin cerita sekitar :)
gimana mereka cerita sebagian besar cerita mereka
bukan dari komunikasi dan interaksi langsung
alias dari phone mereka sendiri-sendiri :)

dalam beberapa hal
sangat bersyukur sekali.
beberapa tahun belakangan jadi kurang gaul.
men. mungkin cuma sy sendiri yang masih nyaman pegang henfon oldschool ! blah ! :)))

grab my phone, nor smartphone or whatefuckever :))
banyak. banget, sekarang ini yang pakai smartphone
aplikasi messenger, newer apps, etc etc and so on
dan keputusan gak pakai BB lumayan tepat.

di sekitar, hanya perlu menilai dan mendengar.
darisitu jadi good and careful listener.
seperlunya.
sampai tertarik pun enggak.
kalau enggak tertarik biasanya gak bakal, sampek matipun kepikiran :)))

banyak yang ngeluh kenapa gak pakai.
katanya biar gampang dihubungin dsb

MAN. I TOLD YA.
IM SO FUCKIN ENJOYIN MY CURRENT LIFE !!
YEAH GODDAMNIT IM SO PASSIONATE BOUT IT :)))

darisana fikir ini lebih belajar pada langit.
dan buku-buku lama.
bukan layar-layar digital. :)

----------------------------------------------------------------------


sedikit ego.
bisa proteksi diri.
lagi-lagi seperlunya.

bagaimana sekitar menilai kita jadi lebih terbatas.
meskipun tidak sepenuhnya bener sih :)))



ada yang terlalu takut untuk menanyakan diri ini,
saya yakin :)
dan yang terlalu takut dan repot-repot menanyakan,
tapi ingin menilai diri ini dari ke-tidak gaulan tadi...

saya berasumsi.
dan yakin.
ada silent reader langganan disini. :)))

sssssssttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttlamefuckttttttttttttttttttttttttttt

Saturday, April 12, 2014

April Akhir Minggu

12 april.
dimana tidak seperti biasanya menghabiskan akhir minggu.
wahana rekreatif, makan. makan !
bosan sekali sebenarnya.
yang pertama, Malang sudah kehilangan magisnya.
kalau ada yang membuat saya masih menyayangkan Malang,
jangan salahkan bagaimana memori masih me-rewel-kan dirinya sendiri.
sulit membayangkan sudah betapa lama,
saya tidak melakukan aktivitas menyenangkan.

-------------------------

langsung saja.
Illy Cafe, pada malamnya.
dibalik semua keceriaan jamuan makanmakan,
ada yang menggelitik memoar.

meja sebelah.
seorang ibu dan anak setingkat SMP
makan berdua.

how that lil sweet things comes up into my mind
bagaimana romantisme keluarga mencari hakikat.
identik dengan masa lampau :)

mengenai apa yang dicari sang ibu
dan apa yang dipikirkan sang anak
adalah sesungguhnya sesuatu yang sangat lucu untuk dipikirkan sekalipun :)

dulu. dulu sekali.
identik.

tiap kenaikan kelas atau nilai baik.
makan bersama adalah reward darinya.
sesuatu yang sulit diraih reguler.
darisana sang anak mengenal kata "capai",
dari kata "usaha" terlebih dahulu.

"nilai kamu bagus, ayo makan diluar nak"
thats...
that was a real small things that makes a huge difference.

segala detilnya,
segala kepingan-kepingan subtil yang romantis.
sesenggukan.

romantisme keluarga masalalu :)





-----------------------------------------------------



ah, sudah lama sekali.
berpikir bagaimana kaki ini berjalan saat ini,
adalah sesuatu yang sulit terbandingkan dengan yang lampau
jejak yang ditinggalkan dahulu
mungkin,
jauh lebih presius.
atau mungkin, lebih luar biasa dari apa yang orang lain coba jejakkan kaki mereka saat ini.


lelah ini sudah PERNAH merasakan.
bagaimana hidup enak bak raja, manja !
kata mamalia irasional jaman sekarang,
KITA HIDUP HEDON !

terimakasih sudah pernah dimurahkan.
namun tetap ada ruang yang mendadak kehilangan massanya.
dan bagaimana sekarang memori ini ingin membentuk diri,
sejujurnya saya masih belum menahu.

Monday, April 7, 2014

Pedestrian

ada kalanya sikap teguh dari sebuah idealisme mendadak meragukan dirinya sendiri, hanya karena statement ringan, namun sebetulnya mempunyai kedalaman yang luar biasa duniawi sekali.

apa yang bisa ditawarkan diri sendiri pada realitas?
terkadang kesendirian cuma panggung tunggal yang reot.

ternyata ada cara lain menyingkap rasa acuh.
selain kopi dan hujan.
lone-walking sepulang kampus.
hulu malam di pedestrian.

sudah lama sekali tidak rutin berjalan kaki.
hingga sejak sebulan silam memutuskan kembali.
ada yang sigap, namun malu-malu.

ada pemikiran yang lari-larian.
tak kalah kencang dengan dzikir malam,
sunyinya hakikat secangkir kopi,
ataupun nada percik lahiriyah hujan.

segala yang tersirat selama sehari penuh saling menebar maknanya sendiri.
sulit sekali untuk sekedar mengacuh.
pamer !


Saturday, March 8, 2014

TWENTIES WHAT ?

Twenties is sickening.

i dont even had, counts, as happy and playful life since then.
evything seems to get more serious.
the future, college life, responsibilty etc etc
got to be a man for a real life, tho.

most of all,
and for the first time ever,
im afraid taking any relationship at this ages.
i dont have any great things to offer, liked before.
and it turns me out black minded.

achievement is something related to twenties.
and i didnt do anything great as well.
well, lets say, some prestigious works,
or great score at college. yet.
but the best thing is,
my ideals saved me from those kind of moronic things.

trying to learn some detail is frustating a bit.
when ppl around still having fun, likes,
hanging out w friends or whatever it shud spent.
im too much busy w reading literatures.
understanding a thing that ,
other ppl wont ever looks after it.
i found it soooo bothered me as a youth.

ive got my seconds as a freeman was,
a holiday. a mountain. mother nature.
then you know where i personally loved to go,
and tried to urge ppl to come along w me.
because a place that could save me from it,
the hatred twenties are, somewhere peaceful.
not mall, or any other entertaining stuff.

moreover,
Twenties is suffering.

Tuesday, February 4, 2014

What I'm Thinking Abt Our Interior Design Dept.

lets talk a quick argument about my department.
firstofall, im very gratefully happy to be involved at this dept as well.
apa yang membuat kuliah di jurusan desain interior SANGAT menyenangkan adalah,
kamu bisa eksplorasi ide mu di tiap semesternya :))

seenggaknya, saya memilih untuk tidak "kuliah aman" di tiap semester.
ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar orientasi nilai.
meskipun, nilai akhir adalah refleksi dari proses belajar dalam satu semester.
dan saya sendiri, bukan manusia dengan attitude "niat" yang baik.

selama beberapa tahun kuliah di dua universitas ternama di jawa timur, saya belajar.
bahwa nilai A, 100% tidak berasal dari proses ideasi individu. (yo lawas jon )
banyak role model, apalagi di kampus yang sekarang
bahwa nilai A, bukan cermin kualitas wawasan individu
banyak faktor non-teknis memang, dan prosentasenya sangat besar.
saya pribadi tidak menganggap teman yang memiliki IPK tinggi di kelas,
adalah bener-bener cerminan kualitas mereka.
saya gak akan pernah minder.
hanya agak, sangat, menyesali sifat malas menata diri, meskipun berani bersaing.

balik ke society nya jurusan ini,
agak kecewa memang.
imaji yang saya dapat tidak seperti yang saya benar-benar harapkan.
meskipun,
ada beberapa notable player di jurusan,
yang benar-benar punya kualitas.
punya sense spasial yang baik,
wawasan arsi yang mumpuni,
atau kemampuan aplikasi komputerisasi.

dari sana, saya jadi berasumsi mentah.
jurusan interior di kampus ini, kurang semangat.
sampai sejauh mana ilmu tersebut mampu di definisikan?
sampai seberapa dalam ilmu tersebut mau di manifestasikan?
it tends to get a lack of competitive and hi-quality student, at last. ( i mean, the real deal of quality )

dari sana juga, saya belajar
kompetitif itu sifatnya komparatif.
andai tiap individu punya basic keunggulan masing-masing,
tak ada yang perlu dibandingkan, bukan?
dari sana, tiap mahasiswa lebih peduli pada individual interest masing-masing.
ketimbang kualitas jurusan secara kolektif.
yang punya peluang berprestasi, ya itu-itu aja coy.
mau lulus cepat,
IPK bagus,
terus melanjutkan S2 di kampus yang sangat mumpuni,
atau yang lainnya.
saya menganggap, semua mahasiswa/siswi di jur ini mempunyai basic skill yang sama
tapi sayangnya dengan mindset yang berbeda.
entah apa karena jur interior ini termasuk yang paling "ditirikan"
atau dari minat dan bakat, interior ini termasuk rendah.
sedari awal, banyak yang anggap jurusan interior adalah prodi paling remeh diantara dkv dan prodak.
dan, fenomena seperti itu benar-benar membuat saya MARAH dengan false paradigm tsb.

pada awal saya kuliah di interior,
saya pernah ditanya begini,
"gambarmu kayak gini, opo o gak masuk dkv apa prodak?"
jujur, saya paling benci ada orang yang beranggapan begitu.
setiap orang yang beranggapan begitu akan saya asumsikan mereka meremehkan jur interior.
msuk jur interior bukan semata-mata karena itu pilihan terakhir,
atau rate yang paling rendah.
tapi, seharusnya, karena benar-benar dari kesadaran sendiri.
saya ingin belajar ini.
saya ingin lebih baik dalam hal ini dari siapapun. etc etc


.............................................

ah sudahlah.
jurusan ini mau membentuk hima baru , besok.
meskipun angkatan saya cuma sampai tengah tahun ini.
saya cuma berharap hima interior gak bekerja karena "amanah"
sudah banyak dosen interior yang jengkel dengan lingkungan despro ini, sebenarnya.
mudah untuk menilai habit jurusan ini, warganya dan perannya di mata prodi yang lain.
dan semoga saja asumsi saya MEMANG tidak benar.

sejak masuk sini pun, saya sudah malas berurusan dengan hal ribet seperti hima etc etc
sudah kenyang dengan segala tetek bengeknya dulu.
saya kenal beberapa anak di kelas yang memang benar-benar kompeten di bidangnya.
cuma berharap sebelum lulus ada perubahan dari social paradigm dan habit yang cyclist ini ajasih.
sejak awal saya menganggap jurusan ini jauh, sangat jauh lebih istimewa dari 2 prodi lainnya.
interior '11 juga angkatan istimewa, dengan segala macam tipikal anak-anaknya.
setahun-setahun setengah kedepan, angkatan ini gak berasa mau lulus.
jadi,
jangan sia-siakan :))

Ada Kalanya Tuhan Bukan Maha Pengatur

tampaknya Tuhan menyaksi takdir umatnya seperti galaksi.

titik-titik yang jauh akan selamanya jauh bila tidak diusahakan dekat.

Saturday, January 25, 2014

How.

i wish i could running away by myself, w/out any purposeful thought.
just likes Forrest. 

Forrest Gump.

Wednesday, May 8, 2013

Lyrics of the Month ; May

Champion - Miles to Go

"When I fall I get right back up again and I walk it off
Because life's much too short to be held back by my mistakes
And when I struggle I try my best to find the lessons learned
They get me through and help me give my best

You're running from your problems and getting nowhere 
But you can't forget your dreams 
You'll never reach the goals you've set
Unless you try to take the risk
Can you take the chance?

You watched all your efforts get wiped away
And washed out with the tide
Don't let it kill the hope you feel inside
Let's get it straight you need to get back up and try again
Because sometimes the only path to take 
Is the hardest one to walk

Last shot at our mistakes, the time is now to set them straight
With miles to go will you take the risk?
The choice is yours, are you willing to take the chance?

With miles left to go, will you take the risk?
Because the only path to take is the hardest one to walk"

holy my. that is the ones of positives lyrics ive ever seen.
watch your steps ! makes your path ! #PMA

Tuesday, April 23, 2013

Welcoming Butterflies

17 April 2013.
peluh.

Shonna Talitha Aprilia.
sayapmu terlalu laju menimang peluh.

perbedaan dimensi kita yang jauh,
semoga.

welcoming butterfly.


Wednesday, March 27, 2013

Response-bility

"iya gas kamu mau mau punya adek lagi nanti. ini udah 8 bulan. mungkin nanti kamu liburan pas Juni kamu udah liat adek baru..." Ayah,2013.

im completely SHOCKED.
yet finished my responsibility as a child to get a proper education,
ane bakalan dapet adek baru.
it'll be another happy days, i count it.
tapi punya adek dengan selisih 21 tahun itu gak gampang.
tanggung jawab moral pada keluarga jadi lebih besar.

terus terang ae dengan keadaanku sekarang,
aku mek mentok bisa mbiayai adek ku yg paling dekat. sekarang smp.
dad retire around 7-8 years ahead.
5 adik (2 from dads re-marriage and 3 from moms re-marriage).
2 sisters dari ayah yg paling tua baru masuk SMA pas ayah pensiun.
apalgi yang tiga-tiganya laki dari pernikahan ibu.
dan adek terakhir ini baru masuk kuliah pas ayah sudah jadi kakek.

investasi jangka panjang dari orang tua juga udah ada.
sebagai anak tertua dan laki untuk tidak terlibat dalam masadepan adeknya juga kesalahan besar.
dan saya juga sudah punya rencana sendiri buat supporting pembiayaan aktif adek2 untuk sewaktu2.
its not my responsibility. yet it is.
being the oldest of my brother and sisters takes a HUGE upcoming respnsibility.
responsibilty to keep them safe at "home"
responsibility to keep them proud,and
responsibility to keep them running

its better failing aiming high than succeed aiming low, Bill Nicholson said
i had a big plan,it was.
so that i have to re-build that into a bigger, bigger plan ahead.
not a standard aims that makes you whatsocalled lived happily ever after.
i dont want to overshitting ambitions.
my what-to-achieve-notes isnt merely what the best and suits me.
just fulfill the responsibility.
the games restarted into a higher level when you reached something.

Strive

for the buttload of hard times in my life.
for what intensively happen  in an uncountable times.
barking my heads and feets to the shore of bittterness.

you will NEVER guessed what im striving for.
what you see, is just your assumption.
you assume it likes you were right about what you mostly thinking.

i will prove it WRONG.
just you see?
you will see it very clear w your chins heads up.
when you losing a remembrance of  me in a billions step aheads.

Wednesday, March 13, 2013

Chasing Fire

wow. its been a whole year since my last post.
and i dont know how the catashtropic words seems to overblow my head in a sudden, for a long long times since then.

for someone who told me to chase my fire,
please dont read. i bet you forgot that completely.


its like riding my back to you, afterall.
yeah maybe i felt a lil bit,yeah a clueless moron.


i couldnt find my fire as you told me to.
chasing the fire...isnt as simple as you said to me.


but really, i dont want to wasting my youth
im here not to disappoint myself
you know what begrudge me in the past
to made me choose the hardest part of my life
to revise the whole thing, to rewrite another ambition
to made me left my family, my dream, and my... ah.bleeding me.


yeah i was the forgotten, its not a denial.
a human drowned in a rigid ocean.
drifting the way he lived for , alone.
in a separated way, i put my lights on.
to refuse a shitload of brokenseller,
for a several times in my single breath


i just dont want to hold back,if i could.
there is something i need to disgrace
yeah you know, histories and memories stay remains.
but they has their own way to shown once more,in a different years ahead
its not about a reunite, it IS about to show you what is the fire you said


maybe we lost memories each others,someday
or a punch in our face couldnt help remember
im sure you know
there was a day we set the fire
and chasing it behind our backs.

someday.
yeah,turn the fire off for awhile.
and let times set it again. or not.


the fire,better hiding them for a thousands years ahead.
till we dead with no regret unspoken.

Saturday, December 3, 2011

Absurd;Tanpa Basa - Basi

"Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang,'kan merayu
Tidak juga kau


Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri


Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi..."

Siapa yang tak kenal puisi tersebut?puisi sarat makna historis dan yang paling dikenal semua orang,dari penyair Chairil Anwar.Saat membaca puisi tersebut dalam buku "Deru Campur Debu",rasanya benar-benar merefleksikan wajah nurani dan emosi saya beberapa minggu terakhir,terhitung hingga kemarin.
Puisi ini...bukan masalah keteguhan hati ataupun kegigihan dalam melawan seperti yg ditafsirkan banyak orang.entah mengapa,sajak ini malah menyiratkan keputus asaan yang nadir akan niskala hati.capek.begitu rasanya.identik.

Disinipun,setelah saya pikir...keadaan saya juga bisa dibilang tak lebih baik dr kehidupan saya di Malang.
benar2 struggle kelas berat.bukan dari sisi intelektual yang ditempa tugas2-yang-tak-perlu dari sisi akademis.malah dari tembok emosi dan rasa yang semakin digempur hebat!rasanya...makin lama sifat anarki saya -terus terang saja- hampir kembali.malah rasanya lebih ganas.dimana terang pikiran,kedalaman rasa dan,senyuman seperti sedia kala,aku BELUM menemukannya disini.
di Surabaya ini aku (dan sterusnya,agar lebih personal) telah memukul orang.ironi mutlak!!
entahlah ak jg bingung sekali.entah reflek atau memang niat,rasanya buruk sekali berbuat seperti itu.walau pun yang saya pukul itu yang boleh dikatakan bersalah -menghina rambut gondrong saya-...
Hanya ingin menegaskan bahwa bila hak dalam pilihan hidup kita dicerca oleh org lain,padahal pilihan kita tak merugikan mereka,bahkan secara etika pun tak ada masalah,bagaimana kita tak melawan.apalagi yang mencerca itu dengan tawa mengejek disertai kata2 kotor yang telak.tanpa pikir panjang mendarat lah bogeman mentah ke wajahnya.telak.dia takut dan lari.puas sih puas.tp rasanya dosa sekali.seperti ada beban yang sudah2.susah di Ctrl+Alt+del.bahkan untuk Empty Recycle Bin saja butuh waktu harian mungkin.
mau bercerita itu juga....berat.keadaan pergaulan di its yg saya terus terang masih menutup diri.apalagi cerita ke kawan lama,yang malah mungkin saya bisa malu sendiri dibuatnya.berat sekali kawan.

Belum lagi ditambah kemarin ada "battle" di twitter,rasanya (bukan rasanya lagi) mau mukul org lagi.parah sekali.sangat.padahal target adalah teman saat di malang.saya cuma g ingin rasa respek kita ke orang itu hilang,hanya karena attitude yg g selayaknya.aku disini bukan berarti g memantau seluk beluk dan keadaan kawan2 yang kutinggalkan di malang.hmmmm atau mungkin saya belum bisa move on?bisa saja.masih mau lanjut mukul anak itu?ak g akan menarik kata2ku.

Disini ak tinggal dgn tanteku dgn otoriter nya yg super otoriter.rasanya kembali ke sd.tante berdalih beliau ada untuk menjaga dan mengingatkan ak agar tetap pada track,walaupun hal detil.bagiku hal ini juga g sehat,seakan kita di alarm kan oleh orang lain.kalau begini terus kesadaran diri sendiri ya g akan pernah tumbuh.walaupun memang tante tinggal juga permintaanku dulu,tp ternyata ekspektasi dan hasil itu g ada yang sama.sempat pengen berontak seperti cerita lalu teman2ku yg pernah berontak..,tp g jadi.harus sadar diri.harus menghargai,dan harus berpikir lebih jernih.

Entahlah,saya masih berjuang disini.sekuat tenaga.tp di sisi lain ada yang malah tak terkendali.absurd sekali november ini,sama absurdnya dengan kalimat2 ku di postingan kali ini.saya sedikit diselamatkan semangat genre music Hardcore,dan musik pelarian seperti Metal.kali ini saya juga sering mencari hal-hal yang sekiranya membuat saya stay positive dan live straight.setidaknya dibalik anarkisitas diri,saya masih berhasil smoke free,alcohol free dan drug free.entahlah mempelajari komitmen seperti Straight Edge atau Behavioral nya Positive Mental Attitude apa bisa membantu.

Terus terang,entah absurd yang identik "penuh",atau hampa yg identik "kosong"..
seperti ada yang perlu diisi,dan dijaga.butuh sosok,figur,ataupun new things to do...
atau butuh stimulan,sekedar motivasi,atau mungkin figur seorang pendamping?who knows.
saya yakin kalau kawan2 lama sudah tak pernah berkunjung ke blog ini...
i dont want to admit it.but,all that i can say, I AM ALONE...ah.who cares.