Monday, April 7, 2014

Pedestrian

ada kalanya sikap teguh dari sebuah idealisme mendadak meragukan dirinya sendiri, hanya karena statement ringan, namun sebetulnya mempunyai kedalaman yang luar biasa duniawi sekali.

apa yang bisa ditawarkan diri sendiri pada realitas?
terkadang kesendirian cuma panggung tunggal yang reot.

ternyata ada cara lain menyingkap rasa acuh.
selain kopi dan hujan.
lone-walking sepulang kampus.
hulu malam di pedestrian.

sudah lama sekali tidak rutin berjalan kaki.
hingga sejak sebulan silam memutuskan kembali.
ada yang sigap, namun malu-malu.

ada pemikiran yang lari-larian.
tak kalah kencang dengan dzikir malam,
sunyinya hakikat secangkir kopi,
ataupun nada percik lahiriyah hujan.

segala yang tersirat selama sehari penuh saling menebar maknanya sendiri.
sulit sekali untuk sekedar mengacuh.
pamer !


No comments:

Post a Comment