Friday, August 29, 2014

Larut

sudah seminggu Budhe meninggalkan kami.
dan tampaknya segenap sanak keluarga sudah mampu merelakan.
tegarnya (mungkin) sebatas di pelupuk mata.

kematian, ya.
mungkin Allah juga tidak tega dengan Budhe yang sedari awal sudah pasrah.
andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe.
sebenarnya Budhe sudah menunjukkan tanda-tanda positif pasca Lebaran kemarin.
kedatangan semua (tanpa kecuali) keluarga menjenguk ke rumah,
Budhe sudah mendingan.

tapi,

("tapi".
agak benci juga dengan kata ini.
sebaik-baiknya diksi dan nilai kalimat yang diantar,
"tapi" ini Siwa.
mampu menjungkirbalikkan apa yang dirasa sudah benar dan sebaliknya.)

penyakit itu sudah merambat keras ke paru-paru.
1-2 hari sebelum Budhe dijemput, Budhe memang mengaku sesak.
kata Ayah kondisi seperti ini sudah gak bisa diapa-apain lagi.
cepat atau lambat, kita "dipaksa" merelakan.
manusia (mungkin) tak selamanya siap.

makin benci lagi.

----------------------------------------

"andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe."
darisitu mungkin "kehendak" punya andil dengan takdir.
meski takdir tersebut ialah garis tipis diantara dunia dan maut, sekalipun.
banyak orang yang mampu survive dari kanker, salah satunya teman ayah,
karena ia memang MAU.
kita bicara human will. kemauan.
meski itu rasa sakit sebagaimanapun.
dimensi rasa sakit yang mereka rasa orang lain gak bakalan ngerti,
dengan rasa sakit mereka.
disitu mereka menciptakan ruang.
ruang untuk melawan krisis mereka.
dan saya yakin,
Allah selalu punya rencana yang lebih baik kepada hamba-Nya yang punya kehendak lebih.


tugas kita disini sebagai yang bukan pengidap cuma satu.
menjadikan diri kita sebagai keluarga yang mereka butuhkan di saat APAPUN.
saat malam Budhe hampir kesulitan untuk tidur.
plus, kemo rutin yang harus dijalani.
kita sbenarnya harus ada disana,
walau kita tidak harus masuk ke "ruang" mereka untuk survive.


riwayat hidup yang berat, memang. sangat berat malah.
sebenarnya keluarga keseringan kehabisan kata-kata.
se positif apapun sugesti, afeksi nya gak akan benar-benar sebesar itu.
kadang Budhe menyimpan rasa malu akan penyakitnya,
padahal itu gak perlu ! sama sekali enggak.
sebagai keluarga kita cuma mau melihat semuanya jadi lebih baik. gak lebih.
rasa malu itu hanya akan menutup ridlo dari Allah.
jatuh yang gak akan benar-benar jatuh,
bila Budhe benar-benar mau bangkit.
dan gak mau terkenang dalam kondisi menyerah.

------------------------------------------------------------

tapi apapun itu, mungkin ini rencana terbaik dari Allah.
yang penting almarhum Budhe sekarang sudah bersandingan dengan Pakdhe disana.
untuk saya sendiri, ini pelajaran sangat penting.
begitu krusialnya kita sebagai makhluk sosial ,
yang pada hakikatnya kita harus menjaga dan menyayangi satu sama lain.
siapapun itu. karena apapun itu.
tanpa alasan yang dibuat-buat.
tanpa kepura-puraan.
murni tulus.


semoga yang terbaik buat semuanya.
Amin.

No comments:

Post a Comment