akhir-akhir ini agak kaku.
kekurangan daya untuk mengamini "yes, abis quick getaway ! bisa entengan dikit nih balik rutinitas".
padahal dalam seminggu ini habis dari jogja dan bromo, men.
pada saat yang sama, ngerasa bisa capek juga.
post-states nya secara fisik ya pasti letih.
tapi inner jadi ikut-ikutan mayak dengan nakal berpikir kalau,
"sama-sama capeknya gini, apa bedanya sama rutinitas yang selalu dihindari?"
it's like,
rasa letih itu juga yang berusaha mengingatkan,
jika liburan sekalipun juga ciptaan realitas yang butuh effort.
mungkin daily stucks juga ikut-ikutan gak mau kalah dengan,
"aku bisa menghantui kapan saja, dan kamu gak bisa menghabisiku dengan cara yang sama berkali-kali."
dari situ mungkin diri ini dituduh,
kalau memang.....
ah udahlah.
tidur tipis-tipis dulu.
makin dipikir malah makin membahayakan diri sendiri.
Saturday, November 8, 2014
Friday, August 29, 2014
Larut
sudah seminggu Budhe meninggalkan kami.
dan tampaknya segenap sanak keluarga sudah mampu merelakan.
tegarnya (mungkin) sebatas di pelupuk mata.
kematian, ya.
mungkin Allah juga tidak tega dengan Budhe yang sedari awal sudah pasrah.
andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe.
sebenarnya Budhe sudah menunjukkan tanda-tanda positif pasca Lebaran kemarin.
kedatangan semua (tanpa kecuali) keluarga menjenguk ke rumah,
Budhe sudah mendingan.
tapi,
("tapi".
agak benci juga dengan kata ini.
sebaik-baiknya diksi dan nilai kalimat yang diantar,
"tapi" ini Siwa.
mampu menjungkirbalikkan apa yang dirasa sudah benar dan sebaliknya.)
penyakit itu sudah merambat keras ke paru-paru.
1-2 hari sebelum Budhe dijemput, Budhe memang mengaku sesak.
kata Ayah kondisi seperti ini sudah gak bisa diapa-apain lagi.
cepat atau lambat, kita "dipaksa" merelakan.
manusia (mungkin) tak selamanya siap.
makin benci lagi.
----------------------------------------
"andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe."
darisitu mungkin "kehendak" punya andil dengan takdir.
meski takdir tersebut ialah garis tipis diantara dunia dan maut, sekalipun.
banyak orang yang mampu survive dari kanker, salah satunya teman ayah,
karena ia memang MAU.
kita bicara human will. kemauan.
meski itu rasa sakit sebagaimanapun.
dimensi rasa sakit yang mereka rasa orang lain gak bakalan ngerti,
dengan rasa sakit mereka.
disitu mereka menciptakan ruang.
ruang untuk melawan krisis mereka.
dan saya yakin,
Allah selalu punya rencana yang lebih baik kepada hamba-Nya yang punya kehendak lebih.
tugas kita disini sebagai yang bukan pengidap cuma satu.
menjadikan diri kita sebagai keluarga yang mereka butuhkan di saat APAPUN.
saat malam Budhe hampir kesulitan untuk tidur.
plus, kemo rutin yang harus dijalani.
kita sbenarnya harus ada disana,
walau kita tidak harus masuk ke "ruang" mereka untuk survive.
riwayat hidup yang berat, memang. sangat berat malah.
sebenarnya keluarga keseringan kehabisan kata-kata.
se positif apapun sugesti, afeksi nya gak akan benar-benar sebesar itu.
kadang Budhe menyimpan rasa malu akan penyakitnya,
padahal itu gak perlu ! sama sekali enggak.
sebagai keluarga kita cuma mau melihat semuanya jadi lebih baik. gak lebih.
rasa malu itu hanya akan menutup ridlo dari Allah.
jatuh yang gak akan benar-benar jatuh,
bila Budhe benar-benar mau bangkit.
dan gak mau terkenang dalam kondisi menyerah.
------------------------------------------------------------
tapi apapun itu, mungkin ini rencana terbaik dari Allah.
yang penting almarhum Budhe sekarang sudah bersandingan dengan Pakdhe disana.
untuk saya sendiri, ini pelajaran sangat penting.
begitu krusialnya kita sebagai makhluk sosial ,
yang pada hakikatnya kita harus menjaga dan menyayangi satu sama lain.
siapapun itu. karena apapun itu.
tanpa alasan yang dibuat-buat.
tanpa kepura-puraan.
murni tulus.
semoga yang terbaik buat semuanya.
Amin.
dan tampaknya segenap sanak keluarga sudah mampu merelakan.
tegarnya (mungkin) sebatas di pelupuk mata.
kematian, ya.
mungkin Allah juga tidak tega dengan Budhe yang sedari awal sudah pasrah.
andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe.
sebenarnya Budhe sudah menunjukkan tanda-tanda positif pasca Lebaran kemarin.
kedatangan semua (tanpa kecuali) keluarga menjenguk ke rumah,
Budhe sudah mendingan.
tapi,
("tapi".
agak benci juga dengan kata ini.
sebaik-baiknya diksi dan nilai kalimat yang diantar,
"tapi" ini Siwa.
mampu menjungkirbalikkan apa yang dirasa sudah benar dan sebaliknya.)
penyakit itu sudah merambat keras ke paru-paru.
1-2 hari sebelum Budhe dijemput, Budhe memang mengaku sesak.
kata Ayah kondisi seperti ini sudah gak bisa diapa-apain lagi.
cepat atau lambat, kita "dipaksa" merelakan.
manusia (mungkin) tak selamanya siap.
makin benci lagi.
----------------------------------------
"andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe."
darisitu mungkin "kehendak" punya andil dengan takdir.
meski takdir tersebut ialah garis tipis diantara dunia dan maut, sekalipun.
banyak orang yang mampu survive dari kanker, salah satunya teman ayah,
karena ia memang MAU.
kita bicara human will. kemauan.
meski itu rasa sakit sebagaimanapun.
dimensi rasa sakit yang mereka rasa orang lain gak bakalan ngerti,
dengan rasa sakit mereka.
disitu mereka menciptakan ruang.
ruang untuk melawan krisis mereka.
dan saya yakin,
Allah selalu punya rencana yang lebih baik kepada hamba-Nya yang punya kehendak lebih.
tugas kita disini sebagai yang bukan pengidap cuma satu.
menjadikan diri kita sebagai keluarga yang mereka butuhkan di saat APAPUN.
saat malam Budhe hampir kesulitan untuk tidur.
plus, kemo rutin yang harus dijalani.
kita sbenarnya harus ada disana,
walau kita tidak harus masuk ke "ruang" mereka untuk survive.
riwayat hidup yang berat, memang. sangat berat malah.
sebenarnya keluarga keseringan kehabisan kata-kata.
se positif apapun sugesti, afeksi nya gak akan benar-benar sebesar itu.
kadang Budhe menyimpan rasa malu akan penyakitnya,
padahal itu gak perlu ! sama sekali enggak.
sebagai keluarga kita cuma mau melihat semuanya jadi lebih baik. gak lebih.
rasa malu itu hanya akan menutup ridlo dari Allah.
jatuh yang gak akan benar-benar jatuh,
bila Budhe benar-benar mau bangkit.
dan gak mau terkenang dalam kondisi menyerah.
------------------------------------------------------------
tapi apapun itu, mungkin ini rencana terbaik dari Allah.
yang penting almarhum Budhe sekarang sudah bersandingan dengan Pakdhe disana.
untuk saya sendiri, ini pelajaran sangat penting.
begitu krusialnya kita sebagai makhluk sosial ,
yang pada hakikatnya kita harus menjaga dan menyayangi satu sama lain.
siapapun itu. karena apapun itu.
tanpa alasan yang dibuat-buat.
tanpa kepura-puraan.
murni tulus.
semoga yang terbaik buat semuanya.
Amin.
Sunday, August 10, 2014
Jogja Super Quick Vacay
Hari ini,
ceritanya saya (harusnya) kembali balik ke Bandung. Akan tetapi, rencana ya
hanyalah rencana. Keadaan dan momento selalu gak punya tempat yang jelas,
bukan? Dia bisa datang tiba-tiba, pun demikian dengan kisah perjalanan balik
saya kali ini. Entah kenapa, keadaan yang super ribet bagi saya ternyata punya
makna yang lebih besar dari yang kita kira. Dimulai dari uang yang kepepet,
lupa mempersiapkan pegangan uang yang cukup, hingga kenapa saya memilih bus
regular dibanding bus malam adalah akumulasi situasi yang benar-benar
menggiring saya berkelana semalam di Yogyakarta sekarang.
Entahlah,
untuk uang yang kepepet ini adalah sesuatu yang diluar rencana, namun hal itu
adalah akibat dari perencanaan lain.
Kok? Ya karena sebenarnya uang bulanan saya, khusunya untuk bulan Agustus ini,
(dimana sebenarnya uang bulanannya ya buat biaya hidup di Bandung) sudah ter
alokasikan untuk memperbaiki total speda motor yang tidak saya pakai selama
hampir 4 bulan (dan sejak saat itu saya kemana-mana dengan kaki Bengal saya,
kemanapun). Plus, sudah saya belikan untuk tiket pulang nanti ke Surabaya pada
bulan September. Damn ! I felt so relieved sekaligus cemas. Yang pasti sisa
uang bulanan gak lebih dari 250ribu , dan seenggaknya saya sudah harus sampai
Bandung dengan uang segitu, which is, sebenarnya kondisi tersebut masih normal
dengan asumsi saya naik bus regular dengan sistim oper. Yaaaa semua itu juga
gak lepas dari habisnya tiket kereta jarak jauh langsung maupun sistim oper
hingga seminggu ke depan. Sedangkan, minggu ini saya sudah harus ada di
Bandung. Well, I counted those “financial massacre” as disturbing moment.
Seenggaknya buat sekarang. Eh tadi, ding.
Lupa
mempersiapkan pegangan uang yang cukup adalah satu kebodohan luar biasa. Dari
awal saya Cuma pegang 300 ribu di dompet. Sedangkan saya seenggaknya ada
simpanan buat jaga-jaga sebesar 200ribu di tabungan.gak sempat mampir atm
karena nguber bus pagi-pagi juga di Terminal Bungurasih Surabaya. Bodohnya
lagi, saya yang harusnya naik bis ekonomi Mira, malah naik bus patas AC Eka.
Well serviced sih, tapi duit langsung bodong, 87 rebu amblas. Blah. Darisna
dengan beli jajan-jajan di tengah jalanan,jadi sisa tinggal 200rb an lah.
Monyongnya lagi, saya berharap ada atm center di Terminal Giwangan nanti !
daaaaaan, udah ketebak deh. Ternyata kagak ada tuh yang namanya ATM Senter. Ive
got punk’d ! mana daerah terminal itu jauh dari distrik ramai kota, hampir
kayak jalanan Gedebage gitu. Pas tanya Information Center, katanya gak ada ATM
Center. Paling deket ya ATM BRI, tapi lupa daerah mana tuh lupa. Pas Tanya ATM
Mandiri, katanya ada tuh di KotaGede. Pas tukang ojek nawarin jasa anter
kesana, dengan angkuhnya saya bilang “mboten usah pak, tak mlampah rumiyin”.
Alhasil dan singkat cerita, akhirnya saya sampai di KotaGede dengan tepar
berbusa. ADOH NEMEN BERO TULUNG !
Darisana
sebenarnya masalah terselesaikan ; dapet pegangan duit cukup. Masalahnya,
malesbanget mau balik Giwangan, apalagi jalan kaki. Capek sih enggak, tapi
sekelebat ajanih, saya ngerasa kalau naik bis saat itu juga ( nyampe Jogja nya
Maghrib, di Kotagedenya jam Isya’), bakal nyampainya Subuh kalik. MAL-HES.
MENDING JALAN-JALAN DULU DI JOGJA ! WOOOOOOOO !!
Goddamn
brain. Bisa-bisanya keputusan dadakan berubah menjadi betapa menyenangkannya
pilihan yang diambil itu. Akhirnya dari KotaGede naik tuh yang namanya
TransJogja. Naik 2 kali dari KotaGede trayek 2A truun Bonbin Gembiraloka, terus
oper trayek 1B turun taman pintar. 2 kali oper Cuma bayar 3 rebu, mungkin kalo
opernya langsung dishelter transit
kayaknya gak bakal bayar lebih deh. Kayaknya. Sekalian nanyak juga TJ terpagi
jam berapa, karena besok pagi kan saya harus balik Giwangan lagi buat balik
Bandung. Katanya jam setangah 6 pagi. Lumayan lah, MALEM INI KITA JALAN-JALAN
DI JOGJA ASOY !
Well, saya
nulis cerita ini dari KFC Malioboro, whereas wifi nya pelit banget, status
konek tapi gak nyambung internet, anying. Jadi saya turun tuh di Halte Taman
Pintar, kan doi tempatnya diantara Malioboro sama area Keraton. Ya jadi saya
kearah Keraton dulu, baru balik nyusurin sepanjang Malioboro.
Well,
meskipun Cuma semalem. Saya bahagia banget bisa disini. Udah beberapa kali
pingin kesini gak jadi terus. Sampai disini pun atmosfirnya sukses bikin saya
merinding haru. Alhasil, di lapangan Keraton ane KETAWA NGAKAK HABIS-HABISAN
GAK PEDULI ORANG BAKAL BILANG APA. There is darn-good feeling inside, I tell
you. Suasananya, crowdnya dan lainnya. Yah, mungkin yang udah sering disini,
kuliah disini, dan tinggal disini gak bakal se-lebay saya ya hehe yaaaaa tapi
dari hal sederhana tersebut saya mampu tergelitik olehnya, dan lumayan sukar
juga untuk tidak sumringah :)) itungannya Jogja by Accident inisih, kapan-kapan
deh kalau ada waktu lagi nanti bakal direncanain lebih mateng lagi bakal mau
kemana-mananya. Yaaaa itung-itung memperkaya portofolio lone-travelling saya
enggak sih?
By the way,
udah lama banget gak get lost sendirian gini. Dulu saya setia bawa sketchbook
tuh sebagai media dokumentasi. Syaang banget karena saya sekarang lebih
merindukan kamera, karena urgensinya yang lebih cepet. Andai waktu luangnya
sebanyak lampau, ya saya bakalan bawa sketchbook ya? Well, seenggaknya tanpa
dokumentasipun, feeling saya disini direka ulang dengan optimal. Detil feeling
yang subtil akan sekitar mulai terbangun , dan saya seneng banget dengan hal
itu. Ah, lain kali harus ngajak siapa gitu kek, kalo gak ada ya sendirian aja
cukup. Karena yang nikmatin ya kita sendiri , kan? Hahaha udah deh, CIAO !
Friday, July 18, 2014
Tipis
lagi-lagi ayah telpon,
entah untuk yang ke-berapa kalinya selama Ramadhan.
dan topiknya tetap sama.
keadaan adik ayah yang semakin kritis dari hari ke hari.
keadaan yang semakin getir bila selalu dibicarakan berulang-ulang.
ketakutan yang semakin terpupuk karena...
gentar bila tidak akan bertemu lagi saat lebaran.
gentar bila tidak sempat pulang hanya untuk mengucap maaf.
gentar bila semuanya terlalu serba terlambat bagi ayah.
gentar bila semua beban moral keluarga harus ia tanggung,
tanpa berpura-pura jika ia sangat, sangat terpukul.
ill brief myself again.
kondisi yang benar-benar membuat seorang Roliandi Bagas,
sulit untuk mengucap.
satu titik dimana kata motivatif pun jadi bias.
karena ia tahu, sebenarnya itu tidak akan merubah apapun.
karena ia tahu, ia tidak berhak bicara karena ia,
tidak ikut mengidap dan tidak mungkin bisa merasakan hal yang sama.
begitu menyakitkannya lagi,
karena ia hanya bisa melihat dan mendengar.
tanpa bisa BENAR-BENAR berbuat apa-apa.
yang berguna.
posisi berdiri yang diam, marah karena dirinya sangat tersia.
saya sendiri bakal sangat sulit membayangkan anak budhe,
dalam setahun harus ditinggalkan orang tuanya begitu cepat.
dan dua-duanya karena penyakit yang tidak bisa dilepas ;
kanker.
belum lagi potensi bibit kanker yang mungkin tertanam jua.
setelah sang ayah meninggal, budhe sendirian.
dua anaknya kerja dan kuliah di luar kota.
sendirian sepanjang hari di rumah,
pasca ditinggal sang mendiang suami.
sangat sedih sekali hanya untuk membayangkan,
bagaimana hampir tidak mungkin untuk tidak meratap.
kondisi yang akan semakin memperburuk psikis,
hasilnya ya seperti sekarang ini.
sistem imun menurun.
tersiksa begitu hebatnya tanpa bisa berpura-pura tegar.
begitu santainya kita dalam hidup
karena mati jadi isu yang tidak pasti kapan.
orang-orang terlalu siap untuk hidup.
tanpa mau tahu mereka akan mati kapan dan bagaimana.
sedangkan pengidap kanker seperti budhe?
getir.
satir.
saat dokter bilang "ibu akan baik-baik saja."
sedari awal dokter sudah sangat luar biasa menanggung tanggung jawab moral,
dengan berbohong.
semua pasiennya tahu, semua yang bakal dikatakan itu klise.
budhe tahu, hidupnya tidak akan lebih lama dari yang lainnya.
mati mendadak jadi titik yang sangat pasti.
kita tidak akan pernah siap, katanya.
ya. itu benar.
kebenaran yang menyakitkan.
aku benci absolutism yang selalu diluar jangkauan manusia.
benci sekali.
darisana perilaku pengidap mengambil peran.
ayah tahu, kehilangan suami dan diagnosa kanker...
dalam waktu sangat dekat bagi seorang perempuan,
ialah satu kondisi yang sangat-sangat....
sulit terdefinisikan.
ayah terus menerus memberi support,
untuk tidak terus larut dalam kehilangan.
karena itu adalah hal yang bisa membuat kesehatan budhe makin kritis.
budhe masih ada anak yang masih progresif untuk mencapai sukses.
sang anak tentu berjuang sedemikian rupa,
untuk membalas budi dan membanggakan orang tuanya.
sang anak tidak ingin kehilangan lagi.
sang anak ingin orang tuanya tetap hidup hingga saat itu tiba.
begitu juga kami. dan kamu.
untuk tetap HIDUP.
dan ENGGAK MENYERAH.
tapi, siapa yang bisa menyalahkan sikap kita untuk kehilangan?
dalam beberapa situasi, serba kompleks.
sulit.
bingung.
.
.
.
hingga pada suatu ketika teman saya sempat berkata,
terkenang dalam kematian yang sedih,
bukan kepastian yang selalu mengiringi kondisi pengidap kanker pada umumnya.
tidak ada seorangpun di dunia ini yang menghendaki demikian.
kematian yang terkenang dengan kondisi menyerah.
begitupun seharusnya dengan budhe.
ia sebenarnya punya pilihan.
pilihan untuk tidak lagi membuat sekitarnya merasa sedih.
ia lupa berjanji untuk itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
budhe, semoga masih bisa bertemu lebaran nanti ya.
entah untuk yang ke-berapa kalinya selama Ramadhan.
dan topiknya tetap sama.
keadaan adik ayah yang semakin kritis dari hari ke hari.
keadaan yang semakin getir bila selalu dibicarakan berulang-ulang.
ketakutan yang semakin terpupuk karena...
gentar bila tidak akan bertemu lagi saat lebaran.
gentar bila tidak sempat pulang hanya untuk mengucap maaf.
gentar bila semuanya terlalu serba terlambat bagi ayah.
gentar bila semua beban moral keluarga harus ia tanggung,
tanpa berpura-pura jika ia sangat, sangat terpukul.
ill brief myself again.
kondisi yang benar-benar membuat seorang Roliandi Bagas,
sulit untuk mengucap.
satu titik dimana kata motivatif pun jadi bias.
karena ia tahu, sebenarnya itu tidak akan merubah apapun.
karena ia tahu, ia tidak berhak bicara karena ia,
tidak ikut mengidap dan tidak mungkin bisa merasakan hal yang sama.
begitu menyakitkannya lagi,
karena ia hanya bisa melihat dan mendengar.
tanpa bisa BENAR-BENAR berbuat apa-apa.
yang berguna.
posisi berdiri yang diam, marah karena dirinya sangat tersia.
saya sendiri bakal sangat sulit membayangkan anak budhe,
dalam setahun harus ditinggalkan orang tuanya begitu cepat.
dan dua-duanya karena penyakit yang tidak bisa dilepas ;
kanker.
belum lagi potensi bibit kanker yang mungkin tertanam jua.
setelah sang ayah meninggal, budhe sendirian.
dua anaknya kerja dan kuliah di luar kota.
sendirian sepanjang hari di rumah,
pasca ditinggal sang mendiang suami.
sangat sedih sekali hanya untuk membayangkan,
bagaimana hampir tidak mungkin untuk tidak meratap.
kondisi yang akan semakin memperburuk psikis,
hasilnya ya seperti sekarang ini.
sistem imun menurun.
tersiksa begitu hebatnya tanpa bisa berpura-pura tegar.
begitu santainya kita dalam hidup
karena mati jadi isu yang tidak pasti kapan.
orang-orang terlalu siap untuk hidup.
tanpa mau tahu mereka akan mati kapan dan bagaimana.
sedangkan pengidap kanker seperti budhe?
getir.
satir.
saat dokter bilang "ibu akan baik-baik saja."
sedari awal dokter sudah sangat luar biasa menanggung tanggung jawab moral,
dengan berbohong.
semua pasiennya tahu, semua yang bakal dikatakan itu klise.
budhe tahu, hidupnya tidak akan lebih lama dari yang lainnya.
mati mendadak jadi titik yang sangat pasti.
kita tidak akan pernah siap, katanya.
ya. itu benar.
kebenaran yang menyakitkan.
aku benci absolutism yang selalu diluar jangkauan manusia.
benci sekali.
darisana perilaku pengidap mengambil peran.
ayah tahu, kehilangan suami dan diagnosa kanker...
dalam waktu sangat dekat bagi seorang perempuan,
ialah satu kondisi yang sangat-sangat....
sulit terdefinisikan.
ayah terus menerus memberi support,
untuk tidak terus larut dalam kehilangan.
karena itu adalah hal yang bisa membuat kesehatan budhe makin kritis.
budhe masih ada anak yang masih progresif untuk mencapai sukses.
sang anak tentu berjuang sedemikian rupa,
untuk membalas budi dan membanggakan orang tuanya.
sang anak tidak ingin kehilangan lagi.
sang anak ingin orang tuanya tetap hidup hingga saat itu tiba.
begitu juga kami. dan kamu.
untuk tetap HIDUP.
dan ENGGAK MENYERAH.
tapi, siapa yang bisa menyalahkan sikap kita untuk kehilangan?
dalam beberapa situasi, serba kompleks.
sulit.
bingung.
.
.
.
hingga pada suatu ketika teman saya sempat berkata,
terkenang dalam kematian yang sedih,
bukan kepastian yang selalu mengiringi kondisi pengidap kanker pada umumnya.
tidak ada seorangpun di dunia ini yang menghendaki demikian.
kematian yang terkenang dengan kondisi menyerah.
begitupun seharusnya dengan budhe.
ia sebenarnya punya pilihan.
pilihan untuk tidak lagi membuat sekitarnya merasa sedih.
ia lupa berjanji untuk itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
budhe, semoga masih bisa bertemu lebaran nanti ya.
Sunday, July 6, 2014
Lagi.
di Lapangan Gasibu pasca buka puasa tadi, lonewalking.
sedikit meratap.
riuh.
war wor suara tracker.
lalu lalang.
lampu jalan turut menambah kesan abstraknya.
pusat kota ini tidak cukup megah untuk menjadi pusat peradaban kota, ternyata.
setelah sekian hari di Bandung, akhirnya punya banyak waktu sepi.
baru kali ini tampaknya.
dengan kesendirian, saya canggung.
malu-malu :)
seperti rumus tensi rendah pada umumnya,
existence + space = time.
dimensi ada dari objek dan peristiwa yang diruangkan ulang,
tersusun menjadi satu bentuk kesadaran yang utuh,
namun tidak eksis dalam waktu yang bersamaan.
teoretik.
----
Usia yang terlewat begitu saja sebenarnya menyebalkan.
sedalam-dalamnya langkah yang tertinggal sejatinya ya, begitu saja.
kadar dari tiapnya selalu berbeda. tapi rasanya hampir selalu sama.
sama-sama tidak mungkin untuk tersentuh (kembali).
ditambah kehadiran realitas yang masih kamu raba dengan ragu,
apalagi yang lebih menyebalkan dari memoar,
puluhan tahun pengalaman dengan ringkasan belasan menit?
agak satir.
rasanya kita hidup dihimpit eksistensi nol.
gak ada yang benar-benar berwujud dan nyata,
semuanya terlalu komprehensif.
terlalu luas.
terlalu spekulatif.
indrawi kita cuma alat.
alat permanen dengan fungsi respon temporer.
realitas itu muncul hanya pada saat kita benar-benar merasakannya.
kita,
titik presence dan titik tengah yang terus berjalan.
apa yang sudah dan belum teralami,
layaknya ilusi.
bila waktu adalah objek statis.
usia mungkin subjek yang dinamis.
dinamis non-eksis.
menyebalkan.
mungkin semuanya tak harus terjelaskan.
terjelaskan dengan struktur yang terorganisir.
definitif teoretik.
raga kita mungkin terlalu rapuh untuk itu.
dan jiwa kita terlalu sempit untuknya.
pemikiran ini terlalu tersia.
setidaknya kali ini waktu dan dimensi realitasnya,
tidak mencapai dimensi kesendirian,
dengan segala hal yang dianggap tidak punya eksistensi.
waktu juga bisa reot dan menyerah rupanya.
menyebalkan, eh, detik? :)
18.23, diantara dua adzan, anak kecil lari-larian.
Saturday, April 19, 2014
Hey.
hey.
agak lucu juga dengerin cerita sekitar :)
gimana mereka cerita sebagian besar cerita mereka
bukan dari komunikasi dan interaksi langsung
alias dari phone mereka sendiri-sendiri :)
dalam beberapa hal
sangat bersyukur sekali.
beberapa tahun belakangan jadi kurang gaul.
men. mungkin cuma sy sendiri yang masih nyaman pegang henfon oldschool ! blah ! :)))
grab my phone, nor smartphone or whatefuckever :))
banyak. banget, sekarang ini yang pakai smartphone
aplikasi messenger, newer apps, etc etc and so on
dan keputusan gak pakai BB lumayan tepat.
di sekitar, hanya perlu menilai dan mendengar.
darisitu jadi good and careful listener.
seperlunya.
sampai tertarik pun enggak.
kalau enggak tertarik biasanya gak bakal, sampek matipun kepikiran :)))
banyak yang ngeluh kenapa gak pakai.
katanya biar gampang dihubungin dsb
MAN. I TOLD YA.
IM SO FUCKIN ENJOYIN MY CURRENT LIFE !!
YEAH GODDAMNIT IM SO PASSIONATE BOUT IT :)))
darisana fikir ini lebih belajar pada langit.
dan buku-buku lama.
bukan layar-layar digital. :)
----------------------------------------------------------------------
sedikit ego.
bisa proteksi diri.
lagi-lagi seperlunya.
bagaimana sekitar menilai kita jadi lebih terbatas.
meskipun tidak sepenuhnya bener sih :)))
ada yang terlalu takut untuk menanyakan diri ini,
saya yakin :)
dan yang terlalu takut dan repot-repot menanyakan,
tapi ingin menilai diri ini dari ke-tidak gaulan tadi...
saya berasumsi.
dan yakin.
ada silent reader langganan disini. :)))
sssssssttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttlamefuckttttttttttttttttttttttttttt
agak lucu juga dengerin cerita sekitar :)
gimana mereka cerita sebagian besar cerita mereka
bukan dari komunikasi dan interaksi langsung
alias dari phone mereka sendiri-sendiri :)
dalam beberapa hal
sangat bersyukur sekali.
beberapa tahun belakangan jadi kurang gaul.
men. mungkin cuma sy sendiri yang masih nyaman pegang henfon oldschool ! blah ! :)))
grab my phone, nor smartphone or whatefuckever :))
banyak. banget, sekarang ini yang pakai smartphone
aplikasi messenger, newer apps, etc etc and so on
dan keputusan gak pakai BB lumayan tepat.
di sekitar, hanya perlu menilai dan mendengar.
darisitu jadi good and careful listener.
seperlunya.
sampai tertarik pun enggak.
kalau enggak tertarik biasanya gak bakal, sampek matipun kepikiran :)))
banyak yang ngeluh kenapa gak pakai.
katanya biar gampang dihubungin dsb
MAN. I TOLD YA.
IM SO FUCKIN ENJOYIN MY CURRENT LIFE !!
YEAH GODDAMNIT IM SO PASSIONATE BOUT IT :)))
darisana fikir ini lebih belajar pada langit.
dan buku-buku lama.
bukan layar-layar digital. :)
----------------------------------------------------------------------
sedikit ego.
bisa proteksi diri.
lagi-lagi seperlunya.
bagaimana sekitar menilai kita jadi lebih terbatas.
meskipun tidak sepenuhnya bener sih :)))
ada yang terlalu takut untuk menanyakan diri ini,
saya yakin :)
dan yang terlalu takut dan repot-repot menanyakan,
tapi ingin menilai diri ini dari ke-tidak gaulan tadi...
saya berasumsi.
dan yakin.
ada silent reader langganan disini. :)))
sssssssttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttlamefuckttttttttttttttttttttttttttt
Saturday, April 12, 2014
April Akhir Minggu
12 april.
dimana tidak seperti biasanya menghabiskan akhir minggu.
wahana rekreatif, makan. makan !
bosan sekali sebenarnya.
yang pertama, Malang sudah kehilangan magisnya.
kalau ada yang membuat saya masih menyayangkan Malang,
jangan salahkan bagaimana memori masih me-rewel-kan dirinya sendiri.
sulit membayangkan sudah betapa lama,
saya tidak melakukan aktivitas menyenangkan.
-------------------------
langsung saja.
Illy Cafe, pada malamnya.
dibalik semua keceriaan jamuan makanmakan,
ada yang menggelitik memoar.
meja sebelah.
seorang ibu dan anak setingkat SMP
makan berdua.
how that lil sweet things comes up into my mind
bagaimana romantisme keluarga mencari hakikat.
identik dengan masa lampau :)
mengenai apa yang dicari sang ibu
dan apa yang dipikirkan sang anak
adalah sesungguhnya sesuatu yang sangat lucu untuk dipikirkan sekalipun :)
dulu. dulu sekali.
identik.
tiap kenaikan kelas atau nilai baik.
makan bersama adalah reward darinya.
sesuatu yang sulit diraih reguler.
darisana sang anak mengenal kata "capai",
dari kata "usaha" terlebih dahulu.
"nilai kamu bagus, ayo makan diluar nak"
thats...
that was a real small things that makes a huge difference.
segala detilnya,
segala kepingan-kepingan subtil yang romantis.
sesenggukan.
romantisme keluarga masalalu :)
-----------------------------------------------------
ah, sudah lama sekali.
berpikir bagaimana kaki ini berjalan saat ini,
adalah sesuatu yang sulit terbandingkan dengan yang lampau
jejak yang ditinggalkan dahulu
mungkin,
jauh lebih presius.
atau mungkin, lebih luar biasa dari apa yang orang lain coba jejakkan kaki mereka saat ini.
lelah ini sudah PERNAH merasakan.
bagaimana hidup enak bak raja, manja !
kata mamalia irasional jaman sekarang,
KITA HIDUP HEDON !
terimakasih sudah pernah dimurahkan.
namun tetap ada ruang yang mendadak kehilangan massanya.
dan bagaimana sekarang memori ini ingin membentuk diri,
sejujurnya saya masih belum menahu.
dimana tidak seperti biasanya menghabiskan akhir minggu.
wahana rekreatif, makan. makan !
bosan sekali sebenarnya.
yang pertama, Malang sudah kehilangan magisnya.
kalau ada yang membuat saya masih menyayangkan Malang,
jangan salahkan bagaimana memori masih me-rewel-kan dirinya sendiri.
sulit membayangkan sudah betapa lama,
saya tidak melakukan aktivitas menyenangkan.
-------------------------
langsung saja.
Illy Cafe, pada malamnya.
dibalik semua keceriaan jamuan makanmakan,
ada yang menggelitik memoar.
meja sebelah.
seorang ibu dan anak setingkat SMP
makan berdua.
how that lil sweet things comes up into my mind
bagaimana romantisme keluarga mencari hakikat.
identik dengan masa lampau :)
mengenai apa yang dicari sang ibu
dan apa yang dipikirkan sang anak
adalah sesungguhnya sesuatu yang sangat lucu untuk dipikirkan sekalipun :)
dulu. dulu sekali.
identik.
tiap kenaikan kelas atau nilai baik.
makan bersama adalah reward darinya.
sesuatu yang sulit diraih reguler.
darisana sang anak mengenal kata "capai",
dari kata "usaha" terlebih dahulu.
"nilai kamu bagus, ayo makan diluar nak"
thats...
that was a real small things that makes a huge difference.
segala detilnya,
segala kepingan-kepingan subtil yang romantis.
sesenggukan.
romantisme keluarga masalalu :)
-----------------------------------------------------
ah, sudah lama sekali.
berpikir bagaimana kaki ini berjalan saat ini,
adalah sesuatu yang sulit terbandingkan dengan yang lampau
jejak yang ditinggalkan dahulu
mungkin,
jauh lebih presius.
atau mungkin, lebih luar biasa dari apa yang orang lain coba jejakkan kaki mereka saat ini.
lelah ini sudah PERNAH merasakan.
bagaimana hidup enak bak raja, manja !
kata mamalia irasional jaman sekarang,
KITA HIDUP HEDON !
terimakasih sudah pernah dimurahkan.
namun tetap ada ruang yang mendadak kehilangan massanya.
dan bagaimana sekarang memori ini ingin membentuk diri,
sejujurnya saya masih belum menahu.
Monday, April 7, 2014
Pedestrian
ada kalanya sikap teguh dari sebuah idealisme mendadak meragukan dirinya sendiri, hanya karena statement ringan, namun sebetulnya mempunyai kedalaman yang luar biasa duniawi sekali.
apa yang bisa ditawarkan diri sendiri pada realitas?
terkadang kesendirian cuma panggung tunggal yang reot.
ternyata ada cara lain menyingkap rasa acuh.
selain kopi dan hujan.
lone-walking sepulang kampus.
hulu malam di pedestrian.
sudah lama sekali tidak rutin berjalan kaki.
hingga sejak sebulan silam memutuskan kembali.
ada yang sigap, namun malu-malu.
ada pemikiran yang lari-larian.
tak kalah kencang dengan dzikir malam,
sunyinya hakikat secangkir kopi,
ataupun nada percik lahiriyah hujan.
segala yang tersirat selama sehari penuh saling menebar maknanya sendiri.
sulit sekali untuk sekedar mengacuh.
pamer !
apa yang bisa ditawarkan diri sendiri pada realitas?
terkadang kesendirian cuma panggung tunggal yang reot.
ternyata ada cara lain menyingkap rasa acuh.
selain kopi dan hujan.
lone-walking sepulang kampus.
hulu malam di pedestrian.
sudah lama sekali tidak rutin berjalan kaki.
hingga sejak sebulan silam memutuskan kembali.
ada yang sigap, namun malu-malu.
ada pemikiran yang lari-larian.
tak kalah kencang dengan dzikir malam,
sunyinya hakikat secangkir kopi,
ataupun nada percik lahiriyah hujan.
segala yang tersirat selama sehari penuh saling menebar maknanya sendiri.
sulit sekali untuk sekedar mengacuh.
pamer !
Saturday, March 8, 2014
TWENTIES WHAT ?
Twenties is sickening.
i dont even had, counts, as happy and playful life since then.
evything seems to get more serious.
the future, college life, responsibilty etc etc
got to be a man for a real life, tho.
most of all,
and for the first time ever,
im afraid taking any relationship at this ages.
i dont have any great things to offer, liked before.
and it turns me out black minded.
achievement is something related to twenties.
and i didnt do anything great as well.
well, lets say, some prestigious works,
or great score at college. yet.
but the best thing is,
my ideals saved me from those kind of moronic things.
trying to learn some detail is frustating a bit.
when ppl around still having fun, likes,
hanging out w friends or whatever it shud spent.
im too much busy w reading literatures.
understanding a thing that ,
other ppl wont ever looks after it.
i found it soooo bothered me as a youth.
ive got my seconds as a freeman was,
a holiday. a mountain. mother nature.
then you know where i personally loved to go,
and tried to urge ppl to come along w me.
because a place that could save me from it,
the hatred twenties are, somewhere peaceful.
not mall, or any other entertaining stuff.
moreover,
Twenties is suffering.
i dont even had, counts, as happy and playful life since then.
evything seems to get more serious.
the future, college life, responsibilty etc etc
got to be a man for a real life, tho.
most of all,
and for the first time ever,
im afraid taking any relationship at this ages.
i dont have any great things to offer, liked before.
and it turns me out black minded.
achievement is something related to twenties.
and i didnt do anything great as well.
well, lets say, some prestigious works,
or great score at college. yet.
but the best thing is,
my ideals saved me from those kind of moronic things.
trying to learn some detail is frustating a bit.
when ppl around still having fun, likes,
hanging out w friends or whatever it shud spent.
im too much busy w reading literatures.
understanding a thing that ,
other ppl wont ever looks after it.
i found it soooo bothered me as a youth.
ive got my seconds as a freeman was,
a holiday. a mountain. mother nature.
then you know where i personally loved to go,
and tried to urge ppl to come along w me.
because a place that could save me from it,
the hatred twenties are, somewhere peaceful.
not mall, or any other entertaining stuff.
moreover,
Twenties is suffering.
Tuesday, February 4, 2014
What I'm Thinking Abt Our Interior Design Dept.
lets talk a quick argument about my department.
firstofall, im very gratefully happy to be involved at this dept as well.
apa yang membuat kuliah di jurusan desain interior SANGAT menyenangkan adalah,firstofall, im very gratefully happy to be involved at this dept as well.
kamu bisa eksplorasi ide mu di tiap semesternya :))
seenggaknya, saya memilih untuk tidak "kuliah aman" di tiap semester.
ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar orientasi nilai.
meskipun, nilai akhir adalah refleksi dari proses belajar dalam satu semester.
dan saya sendiri, bukan manusia dengan attitude "niat" yang baik.
selama beberapa tahun kuliah di dua universitas ternama di jawa timur, saya belajar.
sejak masuk sini pun, saya sudah malas berurusan dengan hal ribet seperti hima etc etc
selama beberapa tahun kuliah di dua universitas ternama di jawa timur, saya belajar.
bahwa nilai A, 100% tidak berasal dari proses ideasi individu. (yo lawas jon )
banyak role model, apalagi di kampus yang sekarang
bahwa nilai A, bukan cermin kualitas wawasan individu
banyak faktor non-teknis memang, dan prosentasenya sangat besar.
banyak role model, apalagi di kampus yang sekarang
bahwa nilai A, bukan cermin kualitas wawasan individu
banyak faktor non-teknis memang, dan prosentasenya sangat besar.
saya pribadi tidak menganggap teman yang memiliki IPK tinggi di kelas,
adalah bener-bener cerminan kualitas mereka.
saya gak akan pernah minder.
hanya agak, sangat, menyesali sifat malas menata diri, meskipun berani bersaing.
balik ke society nya jurusan ini,
adalah bener-bener cerminan kualitas mereka.
saya gak akan pernah minder.
hanya agak, sangat, menyesali sifat malas menata diri, meskipun berani bersaing.
balik ke society nya jurusan ini,
agak kecewa memang.
imaji yang saya dapat tidak seperti yang saya benar-benar harapkan.
meskipun,
ada beberapa notable player di jurusan,
yang benar-benar punya kualitas.
meskipun,
ada beberapa notable player di jurusan,
yang benar-benar punya kualitas.
punya sense spasial yang baik,
wawasan arsi yang mumpuni,
wawasan arsi yang mumpuni,
atau kemampuan aplikasi komputerisasi.
dari sana, saya jadi berasumsi mentah.
dari sana, saya jadi berasumsi mentah.
jurusan interior di kampus ini, kurang semangat.
sampai sejauh mana ilmu tersebut mampu di definisikan?
sampai seberapa dalam ilmu tersebut mau di manifestasikan?
it tends to get a lack of competitive and hi-quality student, at last. ( i mean, the real deal of quality )
dari sana juga, saya belajar
kompetitif itu sifatnya komparatif.
andai tiap individu punya basic keunggulan masing-masing,
tak ada yang perlu dibandingkan, bukan?
dari sana, tiap mahasiswa lebih peduli pada individual interest masing-masing.
ketimbang kualitas jurusan secara kolektif.
sampai sejauh mana ilmu tersebut mampu di definisikan?
sampai seberapa dalam ilmu tersebut mau di manifestasikan?
it tends to get a lack of competitive and hi-quality student, at last. ( i mean, the real deal of quality )
dari sana juga, saya belajar
kompetitif itu sifatnya komparatif.
andai tiap individu punya basic keunggulan masing-masing,
tak ada yang perlu dibandingkan, bukan?
dari sana, tiap mahasiswa lebih peduli pada individual interest masing-masing.
ketimbang kualitas jurusan secara kolektif.
yang punya peluang berprestasi, ya itu-itu aja coy.
mau lulus cepat,
IPK bagus,
terus melanjutkan S2 di kampus yang sangat mumpuni,
atau yang lainnya.
IPK bagus,
terus melanjutkan S2 di kampus yang sangat mumpuni,
atau yang lainnya.
saya menganggap, semua mahasiswa/siswi di jur ini mempunyai basic skill yang sama
tapi sayangnya dengan mindset yang berbeda.
entah apa karena jur interior ini termasuk yang paling "ditirikan"
atau dari minat dan bakat, interior ini termasuk rendah.
sedari awal, banyak yang anggap jurusan interior adalah prodi paling remeh diantara dkv dan prodak.
dan, fenomena seperti itu benar-benar membuat saya MARAH dengan false paradigm tsb.
atau dari minat dan bakat, interior ini termasuk rendah.
sedari awal, banyak yang anggap jurusan interior adalah prodi paling remeh diantara dkv dan prodak.
dan, fenomena seperti itu benar-benar membuat saya MARAH dengan false paradigm tsb.
pada awal saya kuliah di interior,
saya pernah ditanya begini,
"gambarmu kayak gini, opo o gak masuk dkv apa prodak?"
jujur, saya paling benci ada orang yang beranggapan begitu.
setiap orang yang beranggapan begitu akan saya asumsikan mereka meremehkan jur interior.
saya pernah ditanya begini,
"gambarmu kayak gini, opo o gak masuk dkv apa prodak?"
jujur, saya paling benci ada orang yang beranggapan begitu.
setiap orang yang beranggapan begitu akan saya asumsikan mereka meremehkan jur interior.
msuk jur interior bukan semata-mata karena itu pilihan terakhir,
atau rate yang paling rendah.
tapi, seharusnya, karena benar-benar dari kesadaran sendiri.
atau rate yang paling rendah.
tapi, seharusnya, karena benar-benar dari kesadaran sendiri.
saya ingin belajar ini.
saya ingin lebih baik dalam hal ini dari siapapun. etc etc
.............................................
ah sudahlah.
jurusan ini mau membentuk hima baru , besok.
meskipun angkatan saya cuma sampai tengah tahun ini.
saya cuma berharap hima interior gak bekerja karena "amanah"
sudah banyak dosen interior yang jengkel dengan lingkungan despro ini, sebenarnya.
saya ingin lebih baik dalam hal ini dari siapapun. etc etc
.............................................
ah sudahlah.
jurusan ini mau membentuk hima baru , besok.
meskipun angkatan saya cuma sampai tengah tahun ini.
saya cuma berharap hima interior gak bekerja karena "amanah"
sudah banyak dosen interior yang jengkel dengan lingkungan despro ini, sebenarnya.
mudah untuk menilai habit jurusan ini, warganya dan perannya di mata prodi yang lain.
dan semoga saja asumsi saya MEMANG tidak benar.
dan semoga saja asumsi saya MEMANG tidak benar.
sejak masuk sini pun, saya sudah malas berurusan dengan hal ribet seperti hima etc etc
sudah kenyang dengan segala tetek bengeknya dulu.
saya kenal beberapa anak di kelas yang memang benar-benar kompeten di bidangnya.
cuma berharap sebelum lulus ada perubahan dari social paradigm dan habit yang cyclist ini ajasih.
sejak awal saya menganggap jurusan ini jauh, sangat jauh lebih istimewa dari 2 prodi lainnya.
saya kenal beberapa anak di kelas yang memang benar-benar kompeten di bidangnya.
cuma berharap sebelum lulus ada perubahan dari social paradigm dan habit yang cyclist ini ajasih.
sejak awal saya menganggap jurusan ini jauh, sangat jauh lebih istimewa dari 2 prodi lainnya.
interior '11 juga angkatan istimewa, dengan segala macam tipikal anak-anaknya.
setahun-setahun setengah kedepan, angkatan ini gak berasa mau lulus.
jadi,
jangan sia-siakan :))
setahun-setahun setengah kedepan, angkatan ini gak berasa mau lulus.
jadi,
jangan sia-siakan :))
Ada Kalanya Tuhan Bukan Maha Pengatur
tampaknya Tuhan menyaksi takdir umatnya seperti galaksi.
titik-titik yang jauh akan selamanya jauh bila tidak diusahakan dekat.
titik-titik yang jauh akan selamanya jauh bila tidak diusahakan dekat.
Saturday, January 25, 2014
How.
i wish i could running away by myself, w/out any purposeful thought.
just likes Forrest.
Forrest Gump.
Subscribe to:
Comments (Atom)