Friday, July 18, 2014

Tipis

lagi-lagi ayah telpon,
entah untuk yang ke-berapa kalinya selama Ramadhan.
dan topiknya tetap sama.
keadaan adik ayah yang semakin kritis dari hari ke hari.
keadaan yang semakin getir bila selalu dibicarakan berulang-ulang.
ketakutan yang semakin terpupuk karena...
gentar bila tidak akan bertemu lagi saat lebaran.
gentar bila tidak sempat pulang hanya untuk mengucap maaf.
gentar bila semuanya terlalu serba terlambat bagi ayah.
gentar bila semua beban moral keluarga harus ia tanggung,
tanpa berpura-pura jika ia sangat, sangat terpukul.


ill brief myself again.
kondisi yang benar-benar membuat seorang Roliandi Bagas,
sulit untuk mengucap.
satu titik dimana kata motivatif pun jadi bias.
karena ia tahu, sebenarnya itu tidak akan merubah apapun.
karena ia tahu, ia tidak berhak bicara karena ia,
tidak ikut mengidap dan tidak mungkin bisa merasakan hal yang sama.
begitu menyakitkannya lagi,
karena ia hanya bisa melihat dan mendengar.
tanpa bisa BENAR-BENAR berbuat apa-apa.
yang berguna.
posisi berdiri yang diam, marah karena dirinya sangat tersia.


saya sendiri bakal sangat sulit membayangkan anak budhe,
dalam setahun harus ditinggalkan orang tuanya begitu cepat.
dan dua-duanya karena penyakit yang tidak bisa dilepas ;
kanker.
belum lagi potensi bibit kanker yang mungkin tertanam jua.
setelah sang ayah meninggal, budhe sendirian.
dua anaknya kerja dan kuliah di luar kota.
sendirian sepanjang hari di rumah,
pasca ditinggal sang mendiang suami.
sangat sedih sekali hanya untuk membayangkan,
bagaimana hampir tidak mungkin untuk tidak meratap.
kondisi yang akan semakin memperburuk psikis,
hasilnya ya seperti sekarang ini.
sistem imun menurun.
tersiksa begitu hebatnya tanpa bisa berpura-pura tegar.



begitu santainya kita dalam hidup
karena mati jadi isu yang tidak pasti kapan.
orang-orang terlalu siap untuk hidup.
tanpa mau tahu mereka akan mati kapan dan bagaimana.
sedangkan pengidap kanker seperti budhe?
getir.
satir.
saat dokter bilang "ibu akan baik-baik saja."
sedari awal dokter sudah sangat luar biasa menanggung tanggung jawab moral,
dengan berbohong.
semua pasiennya tahu, semua yang bakal dikatakan itu klise.
budhe tahu, hidupnya tidak akan lebih lama dari yang lainnya.
mati mendadak jadi titik yang sangat pasti.
kita tidak akan pernah siap, katanya.
ya. itu benar.
kebenaran yang menyakitkan.
aku benci absolutism yang selalu diluar jangkauan manusia.
benci sekali.



darisana perilaku pengidap mengambil peran.
ayah tahu, kehilangan suami dan diagnosa kanker...
dalam waktu sangat dekat bagi seorang perempuan,
ialah satu kondisi yang sangat-sangat....
sulit terdefinisikan.
ayah terus menerus memberi support,
untuk tidak terus larut dalam kehilangan.
karena itu adalah hal yang bisa membuat kesehatan budhe makin kritis.
budhe masih ada anak yang masih progresif untuk mencapai sukses.
sang anak tentu berjuang sedemikian rupa,
untuk membalas budi dan membanggakan orang tuanya.
sang anak tidak ingin kehilangan lagi.
sang anak ingin orang tuanya tetap hidup hingga saat itu tiba.
begitu juga kami. dan kamu.
untuk tetap HIDUP.
dan ENGGAK MENYERAH.
tapi, siapa yang bisa menyalahkan sikap kita untuk kehilangan?

dalam beberapa situasi, serba kompleks.
sulit.
bingung.

.
.
.

hingga pada suatu ketika teman saya sempat berkata,
terkenang dalam kematian yang sedih,
bukan kepastian yang selalu mengiringi kondisi pengidap kanker pada umumnya.
tidak ada seorangpun di dunia ini yang menghendaki demikian.
kematian yang terkenang dengan kondisi menyerah.
begitupun seharusnya dengan budhe.
ia sebenarnya punya pilihan.
pilihan untuk tidak lagi membuat sekitarnya merasa sedih.
ia lupa berjanji untuk itu.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
budhe, semoga masih bisa bertemu lebaran nanti ya.


Sunday, July 6, 2014

Lagi.

di Lapangan Gasibu pasca buka puasa tadi, lonewalking.
sedikit meratap.
riuh.
war wor suara tracker.
lalu lalang.
lampu jalan turut menambah kesan abstraknya.
pusat kota ini tidak cukup megah untuk menjadi pusat peradaban kota, ternyata.

setelah sekian hari di Bandung, akhirnya punya banyak waktu sepi.
baru kali ini tampaknya.
dengan kesendirian, saya canggung.
malu-malu :)

seperti rumus tensi rendah pada umumnya,
existence + space = time.
dimensi ada dari objek dan peristiwa yang diruangkan ulang,
tersusun menjadi satu bentuk kesadaran yang utuh,
namun tidak eksis dalam waktu yang bersamaan.
teoretik.

----

Usia yang terlewat begitu saja sebenarnya menyebalkan.

sedalam-dalamnya langkah yang tertinggal sejatinya ya, begitu saja.
kadar dari tiapnya selalu berbeda. tapi rasanya hampir selalu sama.
sama-sama tidak mungkin untuk tersentuh (kembali).
ditambah kehadiran realitas yang masih kamu raba dengan ragu,
apalagi yang lebih menyebalkan dari memoar,
puluhan tahun pengalaman dengan ringkasan belasan menit?

agak satir.
rasanya kita hidup dihimpit eksistensi nol.
gak ada yang benar-benar berwujud dan nyata,
semuanya terlalu komprehensif.
terlalu luas.
terlalu spekulatif.
indrawi kita cuma alat.
alat permanen dengan fungsi respon temporer.
realitas itu muncul hanya pada saat kita benar-benar merasakannya.
kita,
titik presence dan titik tengah yang terus berjalan.
apa yang sudah dan belum teralami,
layaknya ilusi.
bila waktu adalah objek statis.
usia mungkin subjek yang dinamis.
dinamis non-eksis.

menyebalkan.
mungkin semuanya tak harus terjelaskan.
terjelaskan dengan struktur yang terorganisir.
definitif teoretik.
raga kita mungkin terlalu rapuh untuk itu.
dan jiwa kita terlalu sempit untuknya.

pemikiran ini terlalu tersia.
setidaknya kali ini waktu dan dimensi realitasnya,
tidak mencapai dimensi kesendirian,
dengan segala hal yang dianggap tidak punya eksistensi.
waktu juga bisa reot dan menyerah rupanya.

menyebalkan, eh, detik? :)





18.23, diantara dua adzan, anak kecil lari-larian.

Saturday, April 19, 2014

Hey.

hey.
agak lucu juga dengerin cerita sekitar :)
gimana mereka cerita sebagian besar cerita mereka
bukan dari komunikasi dan interaksi langsung
alias dari phone mereka sendiri-sendiri :)

dalam beberapa hal
sangat bersyukur sekali.
beberapa tahun belakangan jadi kurang gaul.
men. mungkin cuma sy sendiri yang masih nyaman pegang henfon oldschool ! blah ! :)))

grab my phone, nor smartphone or whatefuckever :))
banyak. banget, sekarang ini yang pakai smartphone
aplikasi messenger, newer apps, etc etc and so on
dan keputusan gak pakai BB lumayan tepat.

di sekitar, hanya perlu menilai dan mendengar.
darisitu jadi good and careful listener.
seperlunya.
sampai tertarik pun enggak.
kalau enggak tertarik biasanya gak bakal, sampek matipun kepikiran :)))

banyak yang ngeluh kenapa gak pakai.
katanya biar gampang dihubungin dsb

MAN. I TOLD YA.
IM SO FUCKIN ENJOYIN MY CURRENT LIFE !!
YEAH GODDAMNIT IM SO PASSIONATE BOUT IT :)))

darisana fikir ini lebih belajar pada langit.
dan buku-buku lama.
bukan layar-layar digital. :)

----------------------------------------------------------------------


sedikit ego.
bisa proteksi diri.
lagi-lagi seperlunya.

bagaimana sekitar menilai kita jadi lebih terbatas.
meskipun tidak sepenuhnya bener sih :)))



ada yang terlalu takut untuk menanyakan diri ini,
saya yakin :)
dan yang terlalu takut dan repot-repot menanyakan,
tapi ingin menilai diri ini dari ke-tidak gaulan tadi...

saya berasumsi.
dan yakin.
ada silent reader langganan disini. :)))

sssssssttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttlamefuckttttttttttttttttttttttttttt

Saturday, April 12, 2014

April Akhir Minggu

12 april.
dimana tidak seperti biasanya menghabiskan akhir minggu.
wahana rekreatif, makan. makan !
bosan sekali sebenarnya.
yang pertama, Malang sudah kehilangan magisnya.
kalau ada yang membuat saya masih menyayangkan Malang,
jangan salahkan bagaimana memori masih me-rewel-kan dirinya sendiri.
sulit membayangkan sudah betapa lama,
saya tidak melakukan aktivitas menyenangkan.

-------------------------

langsung saja.
Illy Cafe, pada malamnya.
dibalik semua keceriaan jamuan makanmakan,
ada yang menggelitik memoar.

meja sebelah.
seorang ibu dan anak setingkat SMP
makan berdua.

how that lil sweet things comes up into my mind
bagaimana romantisme keluarga mencari hakikat.
identik dengan masa lampau :)

mengenai apa yang dicari sang ibu
dan apa yang dipikirkan sang anak
adalah sesungguhnya sesuatu yang sangat lucu untuk dipikirkan sekalipun :)

dulu. dulu sekali.
identik.

tiap kenaikan kelas atau nilai baik.
makan bersama adalah reward darinya.
sesuatu yang sulit diraih reguler.
darisana sang anak mengenal kata "capai",
dari kata "usaha" terlebih dahulu.

"nilai kamu bagus, ayo makan diluar nak"
thats...
that was a real small things that makes a huge difference.

segala detilnya,
segala kepingan-kepingan subtil yang romantis.
sesenggukan.

romantisme keluarga masalalu :)





-----------------------------------------------------



ah, sudah lama sekali.
berpikir bagaimana kaki ini berjalan saat ini,
adalah sesuatu yang sulit terbandingkan dengan yang lampau
jejak yang ditinggalkan dahulu
mungkin,
jauh lebih presius.
atau mungkin, lebih luar biasa dari apa yang orang lain coba jejakkan kaki mereka saat ini.


lelah ini sudah PERNAH merasakan.
bagaimana hidup enak bak raja, manja !
kata mamalia irasional jaman sekarang,
KITA HIDUP HEDON !

terimakasih sudah pernah dimurahkan.
namun tetap ada ruang yang mendadak kehilangan massanya.
dan bagaimana sekarang memori ini ingin membentuk diri,
sejujurnya saya masih belum menahu.

Monday, April 7, 2014

Pedestrian

ada kalanya sikap teguh dari sebuah idealisme mendadak meragukan dirinya sendiri, hanya karena statement ringan, namun sebetulnya mempunyai kedalaman yang luar biasa duniawi sekali.

apa yang bisa ditawarkan diri sendiri pada realitas?
terkadang kesendirian cuma panggung tunggal yang reot.

ternyata ada cara lain menyingkap rasa acuh.
selain kopi dan hujan.
lone-walking sepulang kampus.
hulu malam di pedestrian.

sudah lama sekali tidak rutin berjalan kaki.
hingga sejak sebulan silam memutuskan kembali.
ada yang sigap, namun malu-malu.

ada pemikiran yang lari-larian.
tak kalah kencang dengan dzikir malam,
sunyinya hakikat secangkir kopi,
ataupun nada percik lahiriyah hujan.

segala yang tersirat selama sehari penuh saling menebar maknanya sendiri.
sulit sekali untuk sekedar mengacuh.
pamer !


Saturday, March 8, 2014

TWENTIES WHAT ?

Twenties is sickening.

i dont even had, counts, as happy and playful life since then.
evything seems to get more serious.
the future, college life, responsibilty etc etc
got to be a man for a real life, tho.

most of all,
and for the first time ever,
im afraid taking any relationship at this ages.
i dont have any great things to offer, liked before.
and it turns me out black minded.

achievement is something related to twenties.
and i didnt do anything great as well.
well, lets say, some prestigious works,
or great score at college. yet.
but the best thing is,
my ideals saved me from those kind of moronic things.

trying to learn some detail is frustating a bit.
when ppl around still having fun, likes,
hanging out w friends or whatever it shud spent.
im too much busy w reading literatures.
understanding a thing that ,
other ppl wont ever looks after it.
i found it soooo bothered me as a youth.

ive got my seconds as a freeman was,
a holiday. a mountain. mother nature.
then you know where i personally loved to go,
and tried to urge ppl to come along w me.
because a place that could save me from it,
the hatred twenties are, somewhere peaceful.
not mall, or any other entertaining stuff.

moreover,
Twenties is suffering.

Tuesday, February 4, 2014

What I'm Thinking Abt Our Interior Design Dept.

lets talk a quick argument about my department.
firstofall, im very gratefully happy to be involved at this dept as well.
apa yang membuat kuliah di jurusan desain interior SANGAT menyenangkan adalah,
kamu bisa eksplorasi ide mu di tiap semesternya :))

seenggaknya, saya memilih untuk tidak "kuliah aman" di tiap semester.
ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar orientasi nilai.
meskipun, nilai akhir adalah refleksi dari proses belajar dalam satu semester.
dan saya sendiri, bukan manusia dengan attitude "niat" yang baik.

selama beberapa tahun kuliah di dua universitas ternama di jawa timur, saya belajar.
bahwa nilai A, 100% tidak berasal dari proses ideasi individu. (yo lawas jon )
banyak role model, apalagi di kampus yang sekarang
bahwa nilai A, bukan cermin kualitas wawasan individu
banyak faktor non-teknis memang, dan prosentasenya sangat besar.
saya pribadi tidak menganggap teman yang memiliki IPK tinggi di kelas,
adalah bener-bener cerminan kualitas mereka.
saya gak akan pernah minder.
hanya agak, sangat, menyesali sifat malas menata diri, meskipun berani bersaing.

balik ke society nya jurusan ini,
agak kecewa memang.
imaji yang saya dapat tidak seperti yang saya benar-benar harapkan.
meskipun,
ada beberapa notable player di jurusan,
yang benar-benar punya kualitas.
punya sense spasial yang baik,
wawasan arsi yang mumpuni,
atau kemampuan aplikasi komputerisasi.

dari sana, saya jadi berasumsi mentah.
jurusan interior di kampus ini, kurang semangat.
sampai sejauh mana ilmu tersebut mampu di definisikan?
sampai seberapa dalam ilmu tersebut mau di manifestasikan?
it tends to get a lack of competitive and hi-quality student, at last. ( i mean, the real deal of quality )

dari sana juga, saya belajar
kompetitif itu sifatnya komparatif.
andai tiap individu punya basic keunggulan masing-masing,
tak ada yang perlu dibandingkan, bukan?
dari sana, tiap mahasiswa lebih peduli pada individual interest masing-masing.
ketimbang kualitas jurusan secara kolektif.
yang punya peluang berprestasi, ya itu-itu aja coy.
mau lulus cepat,
IPK bagus,
terus melanjutkan S2 di kampus yang sangat mumpuni,
atau yang lainnya.
saya menganggap, semua mahasiswa/siswi di jur ini mempunyai basic skill yang sama
tapi sayangnya dengan mindset yang berbeda.
entah apa karena jur interior ini termasuk yang paling "ditirikan"
atau dari minat dan bakat, interior ini termasuk rendah.
sedari awal, banyak yang anggap jurusan interior adalah prodi paling remeh diantara dkv dan prodak.
dan, fenomena seperti itu benar-benar membuat saya MARAH dengan false paradigm tsb.

pada awal saya kuliah di interior,
saya pernah ditanya begini,
"gambarmu kayak gini, opo o gak masuk dkv apa prodak?"
jujur, saya paling benci ada orang yang beranggapan begitu.
setiap orang yang beranggapan begitu akan saya asumsikan mereka meremehkan jur interior.
msuk jur interior bukan semata-mata karena itu pilihan terakhir,
atau rate yang paling rendah.
tapi, seharusnya, karena benar-benar dari kesadaran sendiri.
saya ingin belajar ini.
saya ingin lebih baik dalam hal ini dari siapapun. etc etc


.............................................

ah sudahlah.
jurusan ini mau membentuk hima baru , besok.
meskipun angkatan saya cuma sampai tengah tahun ini.
saya cuma berharap hima interior gak bekerja karena "amanah"
sudah banyak dosen interior yang jengkel dengan lingkungan despro ini, sebenarnya.
mudah untuk menilai habit jurusan ini, warganya dan perannya di mata prodi yang lain.
dan semoga saja asumsi saya MEMANG tidak benar.

sejak masuk sini pun, saya sudah malas berurusan dengan hal ribet seperti hima etc etc
sudah kenyang dengan segala tetek bengeknya dulu.
saya kenal beberapa anak di kelas yang memang benar-benar kompeten di bidangnya.
cuma berharap sebelum lulus ada perubahan dari social paradigm dan habit yang cyclist ini ajasih.
sejak awal saya menganggap jurusan ini jauh, sangat jauh lebih istimewa dari 2 prodi lainnya.
interior '11 juga angkatan istimewa, dengan segala macam tipikal anak-anaknya.
setahun-setahun setengah kedepan, angkatan ini gak berasa mau lulus.
jadi,
jangan sia-siakan :))