Sunday, August 10, 2014

Jogja Super Quick Vacay

Hari ini, ceritanya saya (harusnya) kembali balik ke Bandung. Akan tetapi, rencana ya hanyalah rencana. Keadaan dan momento selalu gak punya tempat yang jelas, bukan? Dia bisa datang tiba-tiba, pun demikian dengan kisah perjalanan balik saya kali ini. Entah kenapa, keadaan yang super ribet bagi saya ternyata punya makna yang lebih besar dari yang kita kira. Dimulai dari uang yang kepepet, lupa mempersiapkan pegangan uang yang cukup, hingga kenapa saya memilih bus regular dibanding bus malam adalah akumulasi situasi yang benar-benar menggiring saya berkelana semalam di Yogyakarta sekarang.


Entahlah, untuk uang yang kepepet ini adalah sesuatu yang diluar rencana, namun hal itu adalah akibat  dari perencanaan lain. Kok? Ya karena sebenarnya uang bulanan saya, khusunya untuk bulan Agustus ini, (dimana sebenarnya uang bulanannya ya buat biaya hidup di Bandung) sudah ter alokasikan untuk memperbaiki total speda motor yang tidak saya pakai selama hampir 4 bulan (dan sejak saat itu saya kemana-mana dengan kaki Bengal saya, kemanapun). Plus, sudah saya belikan untuk tiket pulang nanti ke Surabaya pada bulan September. Damn ! I felt so relieved sekaligus cemas. Yang pasti sisa uang bulanan gak lebih dari 250ribu , dan seenggaknya saya sudah harus sampai Bandung dengan uang segitu, which is, sebenarnya kondisi tersebut masih normal dengan asumsi saya naik bus regular dengan sistim oper. Yaaaa semua itu juga gak lepas dari habisnya tiket kereta jarak jauh langsung maupun sistim oper hingga seminggu ke depan. Sedangkan, minggu ini saya sudah harus ada di Bandung. Well, I counted those “financial massacre” as disturbing moment. Seenggaknya buat sekarang. Eh tadi, ding.


Lupa mempersiapkan pegangan uang yang cukup adalah satu kebodohan luar biasa. Dari awal saya Cuma pegang 300 ribu di dompet. Sedangkan saya seenggaknya ada simpanan buat jaga-jaga sebesar 200ribu di tabungan.gak sempat mampir atm karena nguber bus pagi-pagi juga di Terminal Bungurasih Surabaya. Bodohnya lagi, saya yang harusnya naik bis ekonomi Mira, malah naik bus patas AC Eka. Well serviced sih, tapi duit langsung bodong, 87 rebu amblas. Blah. Darisna dengan beli jajan-jajan di tengah jalanan,jadi sisa tinggal 200rb an lah. Monyongnya lagi, saya berharap ada atm center di Terminal Giwangan nanti ! daaaaaan, udah ketebak deh. Ternyata kagak ada tuh yang namanya ATM Senter. Ive got punk’d ! mana daerah terminal itu jauh dari distrik ramai kota, hampir kayak jalanan Gedebage gitu. Pas tanya Information Center, katanya gak ada ATM Center. Paling deket ya ATM BRI, tapi lupa daerah mana tuh lupa. Pas Tanya ATM Mandiri, katanya ada tuh di KotaGede. Pas tukang ojek nawarin jasa anter kesana, dengan angkuhnya saya bilang “mboten usah pak, tak mlampah rumiyin”. Alhasil dan singkat cerita, akhirnya saya sampai di KotaGede dengan tepar berbusa. ADOH NEMEN BERO TULUNG !


Darisana sebenarnya masalah terselesaikan ; dapet pegangan duit cukup. Masalahnya, malesbanget mau balik Giwangan, apalagi jalan kaki. Capek sih enggak, tapi sekelebat ajanih, saya ngerasa kalau naik bis saat itu juga ( nyampe Jogja nya Maghrib, di Kotagedenya jam Isya’), bakal nyampainya Subuh kalik. MAL-HES. MENDING JALAN-JALAN DULU DI JOGJA ! WOOOOOOOO !!


Goddamn brain. Bisa-bisanya keputusan dadakan berubah menjadi betapa menyenangkannya pilihan yang diambil itu. Akhirnya dari KotaGede naik tuh yang namanya TransJogja. Naik 2 kali dari KotaGede trayek 2A truun Bonbin Gembiraloka, terus oper trayek 1B turun taman pintar. 2 kali oper Cuma bayar 3 rebu, mungkin kalo opernya langsung dishelter  transit kayaknya gak bakal bayar lebih deh. Kayaknya. Sekalian nanyak juga TJ terpagi jam berapa, karena besok pagi kan saya harus balik Giwangan lagi buat balik Bandung. Katanya jam setangah 6 pagi. Lumayan lah, MALEM INI KITA JALAN-JALAN DI JOGJA ASOY !


Well, saya nulis cerita ini dari KFC Malioboro, whereas wifi nya pelit banget, status konek tapi gak nyambung internet, anying. Jadi saya turun tuh di Halte Taman Pintar, kan doi tempatnya diantara Malioboro sama area Keraton. Ya jadi saya kearah Keraton dulu, baru balik nyusurin sepanjang Malioboro.


Well, meskipun Cuma semalem. Saya bahagia banget bisa disini. Udah beberapa kali pingin kesini gak jadi terus. Sampai disini pun atmosfirnya sukses bikin saya merinding haru. Alhasil, di lapangan Keraton ane KETAWA NGAKAK HABIS-HABISAN GAK PEDULI ORANG BAKAL BILANG APA. There is darn-good feeling inside, I tell you. Suasananya, crowdnya dan lainnya. Yah, mungkin yang udah sering disini, kuliah disini, dan tinggal disini gak bakal se-lebay saya ya hehe yaaaaa tapi dari hal sederhana tersebut saya mampu tergelitik olehnya, dan lumayan sukar juga untuk tidak sumringah :)) itungannya Jogja by Accident inisih, kapan-kapan deh kalau ada waktu lagi nanti bakal direncanain lebih mateng lagi bakal mau kemana-mananya. Yaaaa itung-itung memperkaya portofolio lone-travelling saya enggak sih?



By the way, udah lama banget gak get lost sendirian gini. Dulu saya setia bawa sketchbook tuh sebagai media dokumentasi. Syaang banget karena saya sekarang lebih merindukan kamera, karena urgensinya yang lebih cepet. Andai waktu luangnya sebanyak lampau, ya saya bakalan bawa sketchbook ya? Well, seenggaknya tanpa dokumentasipun, feeling saya disini direka ulang dengan optimal. Detil feeling yang subtil akan sekitar mulai terbangun , dan saya seneng banget dengan hal itu. Ah, lain kali harus ngajak siapa gitu kek, kalo gak ada ya sendirian aja cukup. Karena yang nikmatin ya kita sendiri , kan? Hahaha udah deh, CIAO !

Friday, July 18, 2014

Tipis

lagi-lagi ayah telpon,
entah untuk yang ke-berapa kalinya selama Ramadhan.
dan topiknya tetap sama.
keadaan adik ayah yang semakin kritis dari hari ke hari.
keadaan yang semakin getir bila selalu dibicarakan berulang-ulang.
ketakutan yang semakin terpupuk karena...
gentar bila tidak akan bertemu lagi saat lebaran.
gentar bila tidak sempat pulang hanya untuk mengucap maaf.
gentar bila semuanya terlalu serba terlambat bagi ayah.
gentar bila semua beban moral keluarga harus ia tanggung,
tanpa berpura-pura jika ia sangat, sangat terpukul.


ill brief myself again.
kondisi yang benar-benar membuat seorang Roliandi Bagas,
sulit untuk mengucap.
satu titik dimana kata motivatif pun jadi bias.
karena ia tahu, sebenarnya itu tidak akan merubah apapun.
karena ia tahu, ia tidak berhak bicara karena ia,
tidak ikut mengidap dan tidak mungkin bisa merasakan hal yang sama.
begitu menyakitkannya lagi,
karena ia hanya bisa melihat dan mendengar.
tanpa bisa BENAR-BENAR berbuat apa-apa.
yang berguna.
posisi berdiri yang diam, marah karena dirinya sangat tersia.


saya sendiri bakal sangat sulit membayangkan anak budhe,
dalam setahun harus ditinggalkan orang tuanya begitu cepat.
dan dua-duanya karena penyakit yang tidak bisa dilepas ;
kanker.
belum lagi potensi bibit kanker yang mungkin tertanam jua.
setelah sang ayah meninggal, budhe sendirian.
dua anaknya kerja dan kuliah di luar kota.
sendirian sepanjang hari di rumah,
pasca ditinggal sang mendiang suami.
sangat sedih sekali hanya untuk membayangkan,
bagaimana hampir tidak mungkin untuk tidak meratap.
kondisi yang akan semakin memperburuk psikis,
hasilnya ya seperti sekarang ini.
sistem imun menurun.
tersiksa begitu hebatnya tanpa bisa berpura-pura tegar.



begitu santainya kita dalam hidup
karena mati jadi isu yang tidak pasti kapan.
orang-orang terlalu siap untuk hidup.
tanpa mau tahu mereka akan mati kapan dan bagaimana.
sedangkan pengidap kanker seperti budhe?
getir.
satir.
saat dokter bilang "ibu akan baik-baik saja."
sedari awal dokter sudah sangat luar biasa menanggung tanggung jawab moral,
dengan berbohong.
semua pasiennya tahu, semua yang bakal dikatakan itu klise.
budhe tahu, hidupnya tidak akan lebih lama dari yang lainnya.
mati mendadak jadi titik yang sangat pasti.
kita tidak akan pernah siap, katanya.
ya. itu benar.
kebenaran yang menyakitkan.
aku benci absolutism yang selalu diluar jangkauan manusia.
benci sekali.



darisana perilaku pengidap mengambil peran.
ayah tahu, kehilangan suami dan diagnosa kanker...
dalam waktu sangat dekat bagi seorang perempuan,
ialah satu kondisi yang sangat-sangat....
sulit terdefinisikan.
ayah terus menerus memberi support,
untuk tidak terus larut dalam kehilangan.
karena itu adalah hal yang bisa membuat kesehatan budhe makin kritis.
budhe masih ada anak yang masih progresif untuk mencapai sukses.
sang anak tentu berjuang sedemikian rupa,
untuk membalas budi dan membanggakan orang tuanya.
sang anak tidak ingin kehilangan lagi.
sang anak ingin orang tuanya tetap hidup hingga saat itu tiba.
begitu juga kami. dan kamu.
untuk tetap HIDUP.
dan ENGGAK MENYERAH.
tapi, siapa yang bisa menyalahkan sikap kita untuk kehilangan?

dalam beberapa situasi, serba kompleks.
sulit.
bingung.

.
.
.

hingga pada suatu ketika teman saya sempat berkata,
terkenang dalam kematian yang sedih,
bukan kepastian yang selalu mengiringi kondisi pengidap kanker pada umumnya.
tidak ada seorangpun di dunia ini yang menghendaki demikian.
kematian yang terkenang dengan kondisi menyerah.
begitupun seharusnya dengan budhe.
ia sebenarnya punya pilihan.
pilihan untuk tidak lagi membuat sekitarnya merasa sedih.
ia lupa berjanji untuk itu.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
budhe, semoga masih bisa bertemu lebaran nanti ya.


Sunday, July 6, 2014

Lagi.

di Lapangan Gasibu pasca buka puasa tadi, lonewalking.
sedikit meratap.
riuh.
war wor suara tracker.
lalu lalang.
lampu jalan turut menambah kesan abstraknya.
pusat kota ini tidak cukup megah untuk menjadi pusat peradaban kota, ternyata.

setelah sekian hari di Bandung, akhirnya punya banyak waktu sepi.
baru kali ini tampaknya.
dengan kesendirian, saya canggung.
malu-malu :)

seperti rumus tensi rendah pada umumnya,
existence + space = time.
dimensi ada dari objek dan peristiwa yang diruangkan ulang,
tersusun menjadi satu bentuk kesadaran yang utuh,
namun tidak eksis dalam waktu yang bersamaan.
teoretik.

----

Usia yang terlewat begitu saja sebenarnya menyebalkan.

sedalam-dalamnya langkah yang tertinggal sejatinya ya, begitu saja.
kadar dari tiapnya selalu berbeda. tapi rasanya hampir selalu sama.
sama-sama tidak mungkin untuk tersentuh (kembali).
ditambah kehadiran realitas yang masih kamu raba dengan ragu,
apalagi yang lebih menyebalkan dari memoar,
puluhan tahun pengalaman dengan ringkasan belasan menit?

agak satir.
rasanya kita hidup dihimpit eksistensi nol.
gak ada yang benar-benar berwujud dan nyata,
semuanya terlalu komprehensif.
terlalu luas.
terlalu spekulatif.
indrawi kita cuma alat.
alat permanen dengan fungsi respon temporer.
realitas itu muncul hanya pada saat kita benar-benar merasakannya.
kita,
titik presence dan titik tengah yang terus berjalan.
apa yang sudah dan belum teralami,
layaknya ilusi.
bila waktu adalah objek statis.
usia mungkin subjek yang dinamis.
dinamis non-eksis.

menyebalkan.
mungkin semuanya tak harus terjelaskan.
terjelaskan dengan struktur yang terorganisir.
definitif teoretik.
raga kita mungkin terlalu rapuh untuk itu.
dan jiwa kita terlalu sempit untuknya.

pemikiran ini terlalu tersia.
setidaknya kali ini waktu dan dimensi realitasnya,
tidak mencapai dimensi kesendirian,
dengan segala hal yang dianggap tidak punya eksistensi.
waktu juga bisa reot dan menyerah rupanya.

menyebalkan, eh, detik? :)





18.23, diantara dua adzan, anak kecil lari-larian.

Saturday, April 19, 2014

Hey.

hey.
agak lucu juga dengerin cerita sekitar :)
gimana mereka cerita sebagian besar cerita mereka
bukan dari komunikasi dan interaksi langsung
alias dari phone mereka sendiri-sendiri :)

dalam beberapa hal
sangat bersyukur sekali.
beberapa tahun belakangan jadi kurang gaul.
men. mungkin cuma sy sendiri yang masih nyaman pegang henfon oldschool ! blah ! :)))

grab my phone, nor smartphone or whatefuckever :))
banyak. banget, sekarang ini yang pakai smartphone
aplikasi messenger, newer apps, etc etc and so on
dan keputusan gak pakai BB lumayan tepat.

di sekitar, hanya perlu menilai dan mendengar.
darisitu jadi good and careful listener.
seperlunya.
sampai tertarik pun enggak.
kalau enggak tertarik biasanya gak bakal, sampek matipun kepikiran :)))

banyak yang ngeluh kenapa gak pakai.
katanya biar gampang dihubungin dsb

MAN. I TOLD YA.
IM SO FUCKIN ENJOYIN MY CURRENT LIFE !!
YEAH GODDAMNIT IM SO PASSIONATE BOUT IT :)))

darisana fikir ini lebih belajar pada langit.
dan buku-buku lama.
bukan layar-layar digital. :)

----------------------------------------------------------------------


sedikit ego.
bisa proteksi diri.
lagi-lagi seperlunya.

bagaimana sekitar menilai kita jadi lebih terbatas.
meskipun tidak sepenuhnya bener sih :)))



ada yang terlalu takut untuk menanyakan diri ini,
saya yakin :)
dan yang terlalu takut dan repot-repot menanyakan,
tapi ingin menilai diri ini dari ke-tidak gaulan tadi...

saya berasumsi.
dan yakin.
ada silent reader langganan disini. :)))

sssssssttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttlamefuckttttttttttttttttttttttttttt

Saturday, April 12, 2014

April Akhir Minggu

12 april.
dimana tidak seperti biasanya menghabiskan akhir minggu.
wahana rekreatif, makan. makan !
bosan sekali sebenarnya.
yang pertama, Malang sudah kehilangan magisnya.
kalau ada yang membuat saya masih menyayangkan Malang,
jangan salahkan bagaimana memori masih me-rewel-kan dirinya sendiri.
sulit membayangkan sudah betapa lama,
saya tidak melakukan aktivitas menyenangkan.

-------------------------

langsung saja.
Illy Cafe, pada malamnya.
dibalik semua keceriaan jamuan makanmakan,
ada yang menggelitik memoar.

meja sebelah.
seorang ibu dan anak setingkat SMP
makan berdua.

how that lil sweet things comes up into my mind
bagaimana romantisme keluarga mencari hakikat.
identik dengan masa lampau :)

mengenai apa yang dicari sang ibu
dan apa yang dipikirkan sang anak
adalah sesungguhnya sesuatu yang sangat lucu untuk dipikirkan sekalipun :)

dulu. dulu sekali.
identik.

tiap kenaikan kelas atau nilai baik.
makan bersama adalah reward darinya.
sesuatu yang sulit diraih reguler.
darisana sang anak mengenal kata "capai",
dari kata "usaha" terlebih dahulu.

"nilai kamu bagus, ayo makan diluar nak"
thats...
that was a real small things that makes a huge difference.

segala detilnya,
segala kepingan-kepingan subtil yang romantis.
sesenggukan.

romantisme keluarga masalalu :)





-----------------------------------------------------



ah, sudah lama sekali.
berpikir bagaimana kaki ini berjalan saat ini,
adalah sesuatu yang sulit terbandingkan dengan yang lampau
jejak yang ditinggalkan dahulu
mungkin,
jauh lebih presius.
atau mungkin, lebih luar biasa dari apa yang orang lain coba jejakkan kaki mereka saat ini.


lelah ini sudah PERNAH merasakan.
bagaimana hidup enak bak raja, manja !
kata mamalia irasional jaman sekarang,
KITA HIDUP HEDON !

terimakasih sudah pernah dimurahkan.
namun tetap ada ruang yang mendadak kehilangan massanya.
dan bagaimana sekarang memori ini ingin membentuk diri,
sejujurnya saya masih belum menahu.

Monday, April 7, 2014

Pedestrian

ada kalanya sikap teguh dari sebuah idealisme mendadak meragukan dirinya sendiri, hanya karena statement ringan, namun sebetulnya mempunyai kedalaman yang luar biasa duniawi sekali.

apa yang bisa ditawarkan diri sendiri pada realitas?
terkadang kesendirian cuma panggung tunggal yang reot.

ternyata ada cara lain menyingkap rasa acuh.
selain kopi dan hujan.
lone-walking sepulang kampus.
hulu malam di pedestrian.

sudah lama sekali tidak rutin berjalan kaki.
hingga sejak sebulan silam memutuskan kembali.
ada yang sigap, namun malu-malu.

ada pemikiran yang lari-larian.
tak kalah kencang dengan dzikir malam,
sunyinya hakikat secangkir kopi,
ataupun nada percik lahiriyah hujan.

segala yang tersirat selama sehari penuh saling menebar maknanya sendiri.
sulit sekali untuk sekedar mengacuh.
pamer !


Saturday, March 8, 2014

TWENTIES WHAT ?

Twenties is sickening.

i dont even had, counts, as happy and playful life since then.
evything seems to get more serious.
the future, college life, responsibilty etc etc
got to be a man for a real life, tho.

most of all,
and for the first time ever,
im afraid taking any relationship at this ages.
i dont have any great things to offer, liked before.
and it turns me out black minded.

achievement is something related to twenties.
and i didnt do anything great as well.
well, lets say, some prestigious works,
or great score at college. yet.
but the best thing is,
my ideals saved me from those kind of moronic things.

trying to learn some detail is frustating a bit.
when ppl around still having fun, likes,
hanging out w friends or whatever it shud spent.
im too much busy w reading literatures.
understanding a thing that ,
other ppl wont ever looks after it.
i found it soooo bothered me as a youth.

ive got my seconds as a freeman was,
a holiday. a mountain. mother nature.
then you know where i personally loved to go,
and tried to urge ppl to come along w me.
because a place that could save me from it,
the hatred twenties are, somewhere peaceful.
not mall, or any other entertaining stuff.

moreover,
Twenties is suffering.