Saturday, April 19, 2014

Hey.

hey.
agak lucu juga dengerin cerita sekitar :)
gimana mereka cerita sebagian besar cerita mereka
bukan dari komunikasi dan interaksi langsung
alias dari phone mereka sendiri-sendiri :)

dalam beberapa hal
sangat bersyukur sekali.
beberapa tahun belakangan jadi kurang gaul.
men. mungkin cuma sy sendiri yang masih nyaman pegang henfon oldschool ! blah ! :)))

grab my phone, nor smartphone or whatefuckever :))
banyak. banget, sekarang ini yang pakai smartphone
aplikasi messenger, newer apps, etc etc and so on
dan keputusan gak pakai BB lumayan tepat.

di sekitar, hanya perlu menilai dan mendengar.
darisitu jadi good and careful listener.
seperlunya.
sampai tertarik pun enggak.
kalau enggak tertarik biasanya gak bakal, sampek matipun kepikiran :)))

banyak yang ngeluh kenapa gak pakai.
katanya biar gampang dihubungin dsb

MAN. I TOLD YA.
IM SO FUCKIN ENJOYIN MY CURRENT LIFE !!
YEAH GODDAMNIT IM SO PASSIONATE BOUT IT :)))

darisana fikir ini lebih belajar pada langit.
dan buku-buku lama.
bukan layar-layar digital. :)

----------------------------------------------------------------------


sedikit ego.
bisa proteksi diri.
lagi-lagi seperlunya.

bagaimana sekitar menilai kita jadi lebih terbatas.
meskipun tidak sepenuhnya bener sih :)))



ada yang terlalu takut untuk menanyakan diri ini,
saya yakin :)
dan yang terlalu takut dan repot-repot menanyakan,
tapi ingin menilai diri ini dari ke-tidak gaulan tadi...

saya berasumsi.
dan yakin.
ada silent reader langganan disini. :)))

sssssssttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttlamefuckttttttttttttttttttttttttttt

Saturday, April 12, 2014

April Akhir Minggu

12 april.
dimana tidak seperti biasanya menghabiskan akhir minggu.
wahana rekreatif, makan. makan !
bosan sekali sebenarnya.
yang pertama, Malang sudah kehilangan magisnya.
kalau ada yang membuat saya masih menyayangkan Malang,
jangan salahkan bagaimana memori masih me-rewel-kan dirinya sendiri.
sulit membayangkan sudah betapa lama,
saya tidak melakukan aktivitas menyenangkan.

-------------------------

langsung saja.
Illy Cafe, pada malamnya.
dibalik semua keceriaan jamuan makanmakan,
ada yang menggelitik memoar.

meja sebelah.
seorang ibu dan anak setingkat SMP
makan berdua.

how that lil sweet things comes up into my mind
bagaimana romantisme keluarga mencari hakikat.
identik dengan masa lampau :)

mengenai apa yang dicari sang ibu
dan apa yang dipikirkan sang anak
adalah sesungguhnya sesuatu yang sangat lucu untuk dipikirkan sekalipun :)

dulu. dulu sekali.
identik.

tiap kenaikan kelas atau nilai baik.
makan bersama adalah reward darinya.
sesuatu yang sulit diraih reguler.
darisana sang anak mengenal kata "capai",
dari kata "usaha" terlebih dahulu.

"nilai kamu bagus, ayo makan diluar nak"
thats...
that was a real small things that makes a huge difference.

segala detilnya,
segala kepingan-kepingan subtil yang romantis.
sesenggukan.

romantisme keluarga masalalu :)





-----------------------------------------------------



ah, sudah lama sekali.
berpikir bagaimana kaki ini berjalan saat ini,
adalah sesuatu yang sulit terbandingkan dengan yang lampau
jejak yang ditinggalkan dahulu
mungkin,
jauh lebih presius.
atau mungkin, lebih luar biasa dari apa yang orang lain coba jejakkan kaki mereka saat ini.


lelah ini sudah PERNAH merasakan.
bagaimana hidup enak bak raja, manja !
kata mamalia irasional jaman sekarang,
KITA HIDUP HEDON !

terimakasih sudah pernah dimurahkan.
namun tetap ada ruang yang mendadak kehilangan massanya.
dan bagaimana sekarang memori ini ingin membentuk diri,
sejujurnya saya masih belum menahu.

Monday, April 7, 2014

Pedestrian

ada kalanya sikap teguh dari sebuah idealisme mendadak meragukan dirinya sendiri, hanya karena statement ringan, namun sebetulnya mempunyai kedalaman yang luar biasa duniawi sekali.

apa yang bisa ditawarkan diri sendiri pada realitas?
terkadang kesendirian cuma panggung tunggal yang reot.

ternyata ada cara lain menyingkap rasa acuh.
selain kopi dan hujan.
lone-walking sepulang kampus.
hulu malam di pedestrian.

sudah lama sekali tidak rutin berjalan kaki.
hingga sejak sebulan silam memutuskan kembali.
ada yang sigap, namun malu-malu.

ada pemikiran yang lari-larian.
tak kalah kencang dengan dzikir malam,
sunyinya hakikat secangkir kopi,
ataupun nada percik lahiriyah hujan.

segala yang tersirat selama sehari penuh saling menebar maknanya sendiri.
sulit sekali untuk sekedar mengacuh.
pamer !