sudah seminggu Budhe meninggalkan kami.
dan tampaknya segenap sanak keluarga sudah mampu merelakan.
tegarnya (mungkin) sebatas di pelupuk mata.
kematian, ya.
mungkin Allah juga tidak tega dengan Budhe yang sedari awal sudah pasrah.
andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe.
sebenarnya Budhe sudah menunjukkan tanda-tanda positif pasca Lebaran kemarin.
kedatangan semua (tanpa kecuali) keluarga menjenguk ke rumah,
Budhe sudah mendingan.
tapi,
("tapi".
agak benci juga dengan kata ini.
sebaik-baiknya diksi dan nilai kalimat yang diantar,
"tapi" ini Siwa.
mampu menjungkirbalikkan apa yang dirasa sudah benar dan sebaliknya.)
penyakit itu sudah merambat keras ke paru-paru.
1-2 hari sebelum Budhe dijemput, Budhe memang mengaku sesak.
kata Ayah kondisi seperti ini sudah gak bisa diapa-apain lagi.
cepat atau lambat, kita "dipaksa" merelakan.
manusia (mungkin) tak selamanya siap.
makin benci lagi.
----------------------------------------
"andai Budhe mau, sebenarnya Allah juga mau memperpanjang umur Budhe."
darisitu mungkin "kehendak" punya andil dengan takdir.
meski takdir tersebut ialah garis tipis diantara dunia dan maut, sekalipun.
banyak orang yang mampu survive dari kanker, salah satunya teman ayah,
karena ia memang MAU.
kita bicara human will. kemauan.
meski itu rasa sakit sebagaimanapun.
dimensi rasa sakit yang mereka rasa orang lain gak bakalan ngerti,
dengan rasa sakit mereka.
disitu mereka menciptakan ruang.
ruang untuk melawan krisis mereka.
dan saya yakin,
Allah selalu punya rencana yang lebih baik kepada hamba-Nya yang punya kehendak lebih.
tugas kita disini sebagai yang bukan pengidap cuma satu.
menjadikan diri kita sebagai keluarga yang mereka butuhkan di saat APAPUN.
saat malam Budhe hampir kesulitan untuk tidur.
plus, kemo rutin yang harus dijalani.
kita sbenarnya harus ada disana,
walau kita tidak harus masuk ke "ruang" mereka untuk survive.
riwayat hidup yang berat, memang. sangat berat malah.
sebenarnya keluarga keseringan kehabisan kata-kata.
se positif apapun sugesti, afeksi nya gak akan benar-benar sebesar itu.
kadang Budhe menyimpan rasa malu akan penyakitnya,
padahal itu gak perlu ! sama sekali enggak.
sebagai keluarga kita cuma mau melihat semuanya jadi lebih baik. gak lebih.
rasa malu itu hanya akan menutup ridlo dari Allah.
jatuh yang gak akan benar-benar jatuh,
bila Budhe benar-benar mau bangkit.
dan gak mau terkenang dalam kondisi menyerah.
------------------------------------------------------------
tapi apapun itu, mungkin ini rencana terbaik dari Allah.
yang penting almarhum Budhe sekarang sudah bersandingan dengan Pakdhe disana.
untuk saya sendiri, ini pelajaran sangat penting.
begitu krusialnya kita sebagai makhluk sosial ,
yang pada hakikatnya kita harus menjaga dan menyayangi satu sama lain.
siapapun itu. karena apapun itu.
tanpa alasan yang dibuat-buat.
tanpa kepura-puraan.
murni tulus.
semoga yang terbaik buat semuanya.
Amin.
Friday, August 29, 2014
Sunday, August 10, 2014
Jogja Super Quick Vacay
Hari ini,
ceritanya saya (harusnya) kembali balik ke Bandung. Akan tetapi, rencana ya
hanyalah rencana. Keadaan dan momento selalu gak punya tempat yang jelas,
bukan? Dia bisa datang tiba-tiba, pun demikian dengan kisah perjalanan balik
saya kali ini. Entah kenapa, keadaan yang super ribet bagi saya ternyata punya
makna yang lebih besar dari yang kita kira. Dimulai dari uang yang kepepet,
lupa mempersiapkan pegangan uang yang cukup, hingga kenapa saya memilih bus
regular dibanding bus malam adalah akumulasi situasi yang benar-benar
menggiring saya berkelana semalam di Yogyakarta sekarang.
Entahlah,
untuk uang yang kepepet ini adalah sesuatu yang diluar rencana, namun hal itu
adalah akibat dari perencanaan lain.
Kok? Ya karena sebenarnya uang bulanan saya, khusunya untuk bulan Agustus ini,
(dimana sebenarnya uang bulanannya ya buat biaya hidup di Bandung) sudah ter
alokasikan untuk memperbaiki total speda motor yang tidak saya pakai selama
hampir 4 bulan (dan sejak saat itu saya kemana-mana dengan kaki Bengal saya,
kemanapun). Plus, sudah saya belikan untuk tiket pulang nanti ke Surabaya pada
bulan September. Damn ! I felt so relieved sekaligus cemas. Yang pasti sisa
uang bulanan gak lebih dari 250ribu , dan seenggaknya saya sudah harus sampai
Bandung dengan uang segitu, which is, sebenarnya kondisi tersebut masih normal
dengan asumsi saya naik bus regular dengan sistim oper. Yaaaa semua itu juga
gak lepas dari habisnya tiket kereta jarak jauh langsung maupun sistim oper
hingga seminggu ke depan. Sedangkan, minggu ini saya sudah harus ada di
Bandung. Well, I counted those “financial massacre” as disturbing moment.
Seenggaknya buat sekarang. Eh tadi, ding.
Lupa
mempersiapkan pegangan uang yang cukup adalah satu kebodohan luar biasa. Dari
awal saya Cuma pegang 300 ribu di dompet. Sedangkan saya seenggaknya ada
simpanan buat jaga-jaga sebesar 200ribu di tabungan.gak sempat mampir atm
karena nguber bus pagi-pagi juga di Terminal Bungurasih Surabaya. Bodohnya
lagi, saya yang harusnya naik bis ekonomi Mira, malah naik bus patas AC Eka.
Well serviced sih, tapi duit langsung bodong, 87 rebu amblas. Blah. Darisna
dengan beli jajan-jajan di tengah jalanan,jadi sisa tinggal 200rb an lah.
Monyongnya lagi, saya berharap ada atm center di Terminal Giwangan nanti !
daaaaaan, udah ketebak deh. Ternyata kagak ada tuh yang namanya ATM Senter. Ive
got punk’d ! mana daerah terminal itu jauh dari distrik ramai kota, hampir
kayak jalanan Gedebage gitu. Pas tanya Information Center, katanya gak ada ATM
Center. Paling deket ya ATM BRI, tapi lupa daerah mana tuh lupa. Pas Tanya ATM
Mandiri, katanya ada tuh di KotaGede. Pas tukang ojek nawarin jasa anter
kesana, dengan angkuhnya saya bilang “mboten usah pak, tak mlampah rumiyin”.
Alhasil dan singkat cerita, akhirnya saya sampai di KotaGede dengan tepar
berbusa. ADOH NEMEN BERO TULUNG !
Darisana
sebenarnya masalah terselesaikan ; dapet pegangan duit cukup. Masalahnya,
malesbanget mau balik Giwangan, apalagi jalan kaki. Capek sih enggak, tapi
sekelebat ajanih, saya ngerasa kalau naik bis saat itu juga ( nyampe Jogja nya
Maghrib, di Kotagedenya jam Isya’), bakal nyampainya Subuh kalik. MAL-HES.
MENDING JALAN-JALAN DULU DI JOGJA ! WOOOOOOOO !!
Goddamn
brain. Bisa-bisanya keputusan dadakan berubah menjadi betapa menyenangkannya
pilihan yang diambil itu. Akhirnya dari KotaGede naik tuh yang namanya
TransJogja. Naik 2 kali dari KotaGede trayek 2A truun Bonbin Gembiraloka, terus
oper trayek 1B turun taman pintar. 2 kali oper Cuma bayar 3 rebu, mungkin kalo
opernya langsung dishelter transit
kayaknya gak bakal bayar lebih deh. Kayaknya. Sekalian nanyak juga TJ terpagi
jam berapa, karena besok pagi kan saya harus balik Giwangan lagi buat balik
Bandung. Katanya jam setangah 6 pagi. Lumayan lah, MALEM INI KITA JALAN-JALAN
DI JOGJA ASOY !
Well, saya
nulis cerita ini dari KFC Malioboro, whereas wifi nya pelit banget, status
konek tapi gak nyambung internet, anying. Jadi saya turun tuh di Halte Taman
Pintar, kan doi tempatnya diantara Malioboro sama area Keraton. Ya jadi saya
kearah Keraton dulu, baru balik nyusurin sepanjang Malioboro.
Well,
meskipun Cuma semalem. Saya bahagia banget bisa disini. Udah beberapa kali
pingin kesini gak jadi terus. Sampai disini pun atmosfirnya sukses bikin saya
merinding haru. Alhasil, di lapangan Keraton ane KETAWA NGAKAK HABIS-HABISAN
GAK PEDULI ORANG BAKAL BILANG APA. There is darn-good feeling inside, I tell
you. Suasananya, crowdnya dan lainnya. Yah, mungkin yang udah sering disini,
kuliah disini, dan tinggal disini gak bakal se-lebay saya ya hehe yaaaaa tapi
dari hal sederhana tersebut saya mampu tergelitik olehnya, dan lumayan sukar
juga untuk tidak sumringah :)) itungannya Jogja by Accident inisih, kapan-kapan
deh kalau ada waktu lagi nanti bakal direncanain lebih mateng lagi bakal mau
kemana-mananya. Yaaaa itung-itung memperkaya portofolio lone-travelling saya
enggak sih?
By the way,
udah lama banget gak get lost sendirian gini. Dulu saya setia bawa sketchbook
tuh sebagai media dokumentasi. Syaang banget karena saya sekarang lebih
merindukan kamera, karena urgensinya yang lebih cepet. Andai waktu luangnya
sebanyak lampau, ya saya bakalan bawa sketchbook ya? Well, seenggaknya tanpa
dokumentasipun, feeling saya disini direka ulang dengan optimal. Detil feeling
yang subtil akan sekitar mulai terbangun , dan saya seneng banget dengan hal
itu. Ah, lain kali harus ngajak siapa gitu kek, kalo gak ada ya sendirian aja
cukup. Karena yang nikmatin ya kita sendiri , kan? Hahaha udah deh, CIAO !
Subscribe to:
Comments (Atom)