every crisis ever.
every year.
every. single. damn. year.
ketika ngerasa setiap tahunnya adalah "well, it must be THAT worst year",
and give no shit its still counting. getting darker.
ada saatnya kamu ada di posisi dimana relatives dan temen temen kamu pacing nya makin cepet dalam hidup, dan kamu termasuk yang ketinggalan.dan berantakan. outspeed af.
ada yang udah kerja dan punya penghasilan lumayan.
ada yang udah married ( well idgas to it doe, but it eventually marked your twenties so bad ).
ada yang udah lulus dan punya plan lanjutan yang oke.
atau ada yang punya rintisan bisnis yang keren.
biasanya i dont give a damn abt it, srsly.
but i understand that feel.
the feel of being the last person,
the pain that unconciously choking my neck even deeper.
ada waktunya pelarian spritual yang biasa kamu lakukan juga gak bakal mempan,
karena kalah binal dari kejadian yang terus menimpa.
gak akan nyebut ini musibah, karena sebagiannya bakal lebih cocok bila disebut ujian.
dengan ujian sebegini kompleks nya, apa aku jadi manusia yang jauh lebih hebat dari ujiannya?
jadi manusia yang jauh lebih unggul dari manusia dengan ujian yang tidak lebih berat denganku?
what if i fail? at ALL?
semuanya tibatiba mengerucut jadi satu pertanyaan ;
do i deserve a thing? a single fucking thing?
deserve a thing dat i wished for?
well its kinda freaked me out a LOT.
i have so many things to do,
so many plan that i wish it got real for some reason.
dan semuanya berantakan. dihancurin banyak hal.
just when i thought i do the rightest thing, it backfired me.
every fucking times.
FIRST ; about my college environment.
makes me wanna punch the fuckin. damn. door.
do i looks like a clueless moron for being different in college?
A HELL NO!
i think i do the best possible way to show that our department needs to go broader than we thought.
i KNOW what am doing, because other univ gradually increase their qualities.
kita kalah jauh dari banyak univ dengan jurusan yang sama, dan ngerasa lulusan angkatan 2011 ini lumayan kena dampaknya.
our standard is old damn low. and its a shame.
okay, mgkin banyak yg nganggep dengan aku lulus telat, aku g qualifies dgn standar ku sndiri.
but hey, if its the process to be a far better person in quality, why not? okay, fuck that.
semakin ikut banyak lomba, semakin ngerti kalau persaingan di luar itu real.
hasil karya kita adalah cerminan hasil pengkayaan referensi dan proses kreatif kita, salah satunya di universitas. and i swear to God, diluar sana banyak karya karya keren parah.
jujur aku turut bahagia banyak teman yang bisa lulus tahun ini.
tapi di saat yang bersamaan juga ngerasa sayang banget krn mereka bisa lebih dari itu.
y know, bukannya aku bisa baca orang atau begimana,
angkatan 2011 ini punya potensi dgn sense design yang harusnya bisa lebih dari garapan tugas akhir mereka sekarang.
dan nyatanya personally i think mereka jadi terbatasi karena di uncon mereka, kondisi bawah sadar mereka, jadi segan sama deadline dan mengamini itu, daripada proses kreatif mereka.
hey, this is a DESIGN SCHOOL. mahasiswa bukan robot.
robot yang aktif hanya karena segan sama perintah.
i hope our department knew that, because i blame them. bukan mahasiswanya.
modern-based study my ass.
back to my story, i got kicked from DI 5 for the second consecutive times, for the record.
and i was like, questioning it so hard. goddamn hard.
the first failure ; ngumpulin lengkap tapi telat.
the 2nd failure ; ngumpulin lengkap, g telat, tp dianggep g pernah asistensi.
i dont blame the lecturers, i respect them.
but the motives and the reason, oh come, ON! i need the LOGIC.
the 1st failure got me like , 'okelah emang salah karena telat itu g ada toleransi'
karena pas itu emang mikir akan lebih baik nglengkapi dulu baru ngumpulin.
usaha kita nglengkapin sesuatu menurut w adalah salah satu bentuk kita respek terhadap apa yang mrk ajarkan, krn menurut w kualitas kerja kita itu salah satunya mencrminkan apakah ajaran beliau2 ini berhasil kita terapkan dgn baik atau tidak.
tapi kebanyakan yang dikasih apa, dapetnya apa. timpang.
memang tak akui, kalau aku orang yang pacing nya slow dalam kerjaan,
tp lebih ke "aku pingin nunjukin kualitas yang seharusnya aku capai",
bukan karena "oke pokok e beres. done"
done ndasmua. im not dat kind of person for FUCK SAKE.
ada beberapa gimik yang sempet kecewa berat dngan dosen saat itu padahal beliau got my respect all the time, bcs you know, beliau bener bener support sama standar ku yg lebih ke arsi.
pada akhirnya beliau nolak kerjaanku mentah mentah tanpa mau NGELIAT dulu. oke aku gak masalah ngulang karena emang telat and that is my consequence, tapi beliau malah bilang "jagan taruh meja saya, ngebek-ngebek i meja saya lak an". kalian tau kerjaan itu pake uang yang gak sedikit, and it got me like langsung buang semua kerjan seharga 400rb itu ke tempat sampah depan ruang dosen. ak ngerasa g lebih dari sampah dgn perlakuan yang aneh macam itu. he should appreciate more by telling my fault in a better possible way. i dropped my respect even further karena temen saya sempet bilang kalau kata beliau aku sebaiknya ngumpulin karyaku dulu APA ADANYA biar dapet nilai. A HELL NAH ! i risk my whole bedtime for this, to be a better person in qualities and you say "apa adanya"? sorry once again im not dat kind of prson. well ini udah kedua kalinya dgn dosen yang sama dgn kasus telat.
the2nd failure lebih aneh lagi. lemme tell you the truth satu demi satu.
ngeliat apa yg terjadi dari kejadian pertama, pastinya gak mau fail lagi karena DI 5 ini proyeksi dari TA ku nanti. yang pertama aku lakuin adalah ngurangi sifat eksploratif yang serba postmo jadi arsitektural yang lebih sleek dan edgy krn ak harusnya ngerancang dgn refernsi yg aku ngerti krn nanti bakal jadi pertanggungjawaban di sidang TA nanti. karena dari itu akhirnya bikin arsitektur yang baru namun tetep dari kajian lama karena gak perlu ngubah lagi preview 1 nya. dosen pembimbing juga ganti, so it sounds a good plan. tp emang maslahnya disini ; pendekatan kerja orang itu masing2 beda beda. the problem is, asistensi yang terjadwal itu juga menuntut kita mencapai target tertentu, sedangkan my working method are doing it backward. kalau di proses "biasa" itu dimulai dari gartek menuju 3D, aku malah sebaliknya karena akan lebih ngehemat waktu tapi dengan kualitas yg gak kalah. im pretty damn sure kalau anak anak pas TA ini diam diam ada yang mengamini itu. nyatanya dosen kurang terbuka dengan pendekatan yang beda dan belum umum itu, yang pada akhirnya kurang sinkron sama proses asistensi. it went well tho smpai pada akhir semester, sidang. jadi ada 2 dosen penguji yang satunya dosen pembimbing. di dosen penguji pertama ini sangat mengapresiasi karena beliau orang yang "ngerti" reputasi mahasiswanya. everything went great bahkan beliau ngasih tau nilai di form penilaian yang seharusnya g boleh ditunjukkan. at that time im sure the final score are gonna be good karena beliau ngasih nilai range 85-92. nilai berapapun dari penguji kedua alias dosen pembimbing yang masuk setidaknya masih lulus lah. but smthing strange starts here.
yang pertama, keputusan aku bakal dapet nilai karena menurut beliau aku masih ada beberapa salah dan bakal dinilai pas ngumpulkan revisi. ok tak turuti. tak revisi apa apa dari mereka berdua dan akhirnya dikumpulkan sesuai jadwal. yang aku tau beliau mau umroh pada jeda waktu setelah itu and im just waiting for the score. pas nilai keluar, i got D. WHAT THE HECK. i assure you i wont ever complaining if it was my fault. i thought i did it all the things he told me to. ngumpulnoe gak telat pisan fak. pada akhirnya w ngadep dosen terkait dengan harapan w dapet alasan logis kenapa bisa dapet D, padahal nilai dari dosen satunya lumayan bagus. dengan hitung2an anak kecil pun range nya gak akan dapet D. dengan konfirmasi awal ke dosen koordinator sbg dosen dgn kapasitas yang pegang nilai, beliau nunjukin nilai kalau ternyata nilai akhir setelah di rata rata adalah sekitar 40-an. makin bingung, akhirnya ngadep dosen pembimbing karena dosen koor cuma terima setoran nilai dari dosen penguji. setelah tanya kejelasan ttg nilai ke dosen pembimbing, beliau cuma bilang "wah roliandi, punyamu gak ada yang bisa dinilai ini, akhirnya saya kasihkan ke pak Mahe (dosen koor) buat nilai aja, saya pusing." WHAT KIND OF ANSWER IS THAT. g bisa nyalahin dosen koor krn beliau cuma ngitung rata rata dari nilai yang dipegang penguji. everything seems to get awkwardly complicated buat dosen pembimbing saya seraya beliau lgsg buka buka kerjaan w. the worst thing is, ak isok nebak kalo beliau baru ngecek SAAT ITU JUGA karena beliau seakan baru buka itu dan coba coba cari kesalahan. for ex ;
Mr. B : "mana ini alternatif ruang terpilih nya kamu gak ada ini"
A : "bukannya perancangan 5 cuma stop sampai plotting ruang pak ya?"
Mr. B : "emang kamu TA gak pake ruang terpilih nanti?"
A : (wtf) "ya... pake pak. tapi target silabus aja cuma sampai situ, anak anak juga gitu,.."
Mr. B : (langsung ditikung) "ya gak bisa gitu itu bandingin sama anak anak lain, sbg dosen itu subjektif namanya."
A : (heavy exhale af) "tapi saya lebih lengkap dari anak anak pak. saya ngumpulin maket arsitektur" (sambil nunjuk dibelakang bapaknya, terus bapaknya kaget. i bet that was his FIRST TIME checked it.)
Mr. B : "maket apa ini, bukan gini maketnya. ini maket arsi namany bukan interior."
A : "lhah dimana mana bukannya pemahaman eksternal baru internal pak ya?"
( im assure you dat these is the most logical statement abt arch and interior as a mutual approach)
Mr. B : " apa ini, bukan lah. salah kamu ini bla bla bla bla...."
A : ( ARE YOU OUT OF YOUR GODDAMN MIND, BRUH?!!! ) "...."
setelah sekian tanya jawab yang gak masyuk dan bener bener gak rasio, akhirnya ;
A :"oke, jadi gini pak... saya berkesimpulan begini. setelah segala macemnya, saya berasumsi kalau punya saya ini (sambil nunjuk kerjaan), gak dinilai pak ya?"
Mr. B : "lho kata siapa belum dinilai? sudah keluar itu nilainya kan?"
A : ( OKAY I DONT FUCK FURTHER WITH THIS MINDLESS CONVERSATION SO DAT I SHOULD STOP THIS ALREADY AF) (exhale) "oke pak, saya cuma mau bilang begini. dari awal saya gak pernah expect dapet AB atau B sekalipun karena menurut bapak pasti tau sndiri saya banyak kurangnya. saya kurang mengerti patokan penilaian bapak darimana karena menurut dosen lain kualitas saya setidaknya sudah memenuhi syarat. cuma begini, kalaupun saya dapet 60, ya bapak tulis 60. bukan tidak dinilai seperti ini. maaf pak saya gak ngepush gimana gimana. saya cuma mau tahu kenapa saya dianggap tidak lolos kualifikasi mata kuliah ini dengan kualitas yg sudah baik. terimakasih pak sebelumnya."
my conclusion is obvious ; NILAIKU NOL. which is WRONG IN MANY WAYS.
paling logis mengingat rata rata ku jadi setengah dari nilai dosen penguji pertama. i knew dosen pembimbing takut repot ngurus perubahan nilai yang ribet. ditambah ada miskom dimana beliau menanggap aku minta waktu buat ngeralat untuk perubahan nilai. GAE OPO.
i did my best out there. iku lak gae seng telat. and here we goes i got screwed up again.
pembelaan terbaik dari beliau setelah itu cuma "kamu belum terlalu fatal kok untuk lulus telat."
TRY EXPLAIN DAT TO MY FATHER. matane a. gakroh a lek aku setaun iki struggle hidup gak pake kiriman sama sekali bcs the earlier failure.
the hatred is growing.