Tuesday, October 25, 2011

Kosong Tanpa Sebab

seperti langit yang selalu berputar,ataukah kita yang benar-benar diam..
benar-benar kekosongan tak lebih dari sebuah siklus,mungkin.
ironisnya,seringkali rasa itu hinggap tanpa sebab.
dari otak yang cerah inspirasi,tiba-tiba dua pertiga isi kepala ini,kosong itu menekan keras hingga penglihatan.
apa yang terpandang 2 belah retina ini bagai bukan bagian dari raga ini,jiwa ini..
ya,mungkin aku ingin menolak derasnya waktu merambati hidup ini sejenak...

entahlah,kadang -atau,mungkin- rutinitas ini melelahkan sekali
sekalipun itu adalah hobi kita sendiri
teman saya pernah berkata,apa substansi kegiatan kita selama ini
tak lebih dr aktifitas berulang hingga kita mati
mungkin kegiatan yg saya lakukan selama ajaran baru ini,yang sungguh lancar sekali,
membuat saya jenuh..atau mungkin saya juga merindukan kejenuhan seperti ini
sudah lama sekali tidak mengarungi pikiran dengan tensi rendah seperti ini...semenjak saya pindah disini.

saya sadar,saya bukan penulis yang baik
saya bukan pelajar bahasa yang baik
hanya saja,bagi saya kata adalah wujud terbaik dari suatu rasa
kadang mata,telinga,dan bibir ini...
sengaja menafikan apapun yang ada diluar tubuh rapuh ini.
tak ada yang lebih buruk dari berbohong,apalagi mendustai diri sendiri!
entahlah tentang apa yang akan terjadi bila manusia sedari lahir tak memiliki tangan.
beruntung saya masih mempunyai lima jari,pengantar rasa dan apapun itu dalam diri saya.
setidaknya masih ada organ lain selain otak,yang mampu menjadi eksekutor kontra agresifnya rasa gentar.

merindu sekali dengan yang seperti ini
seperti masa-masa yang lalu
bersenda kata dengan teman hingga pagi
awalan yang abstrak,selalu berlanjut hingga obrolan yg lebih intim...
saling memahami di momen yang benar-benar mendukung..
kalaupun sendiri,
masih ada malam hingga 10 jam selanjutnya
saling menemani menjaga garis waktu
dari detik demi detik
hanya untuk mengenali malam dan diri sendiri lebih dalam...
ah nikmatnya :)

terus terang sekarang sulit sekali mencari momen seperti itu
dari suasana kota,lampu taman,hingga lingkungan studi
benar-benar tak ada tempat bagi bawah sadar dan sedikit imajiner
rasio dan logika betul-betul ditempa hebat disini
apalagi dengan manusia yang bertipikal seperti sekarang
bukannya saya membenci anak bangsawan nan hartawan
riwayat yang mungkin abadi,
bahwa insan yang ditempa harta sedari lahir,
mudah sekali menutup mata dan telinga sedari awal,kepada kelasi-kelasi dibawah mereka
mereka lebih mendengar insan yg mereka junjung tinggi
dan menghindari manusia yg mereka anggap unprofitable
ah,serumit itukah untuk menanam bibit persahabatan...
kita satu tanah,hidup dibawah matahari yang sama.
benar-benar kondisi yang tak sehat.untungya,semua itu selalu di awal.

merindu sekali dengan kesendirian dari sekitar
bukannya saya anti-sosial
atau mungkin saya punya rasio yang "aneh"
tapi saya tak ingin dianggap munafik,karena saya benar-benar merindu
duduk selonjor di pintu kereta dengan kaki menjulur keluar..
menyimak sisi lain hidup yang melaju lekas dari situ..
berbaring diatas rumput bukit dengan tangan terjuntai kanan-kiri,
mengambil nafas dalam-dalam,lalu menghembusnya perlahan..
atau berjalan di pasar besar di ambang gelap subuh
beralaskan sandal jepit,celana sepakbola yang lebih seperti kolor,dan berjaket lusuh
mereguk segelas kopi panas nan getir dengan pedagang disana..
senyum ikhlas mereka selalu membuka banyak hal
saling mencerita bahwa masih ada kebahagiaan tanpa harta..
semuanya selalu berakhir sama..
mencipta sketsa,sajak,filosofi sederhana bagi kita remaja utopis-idealis,dan sebilah senyum tanpa sebab
nikmat sekali... :)

dan yang terakhir,
saya merindu sekali dengan teman-teman lalu,dan hari demi hari,juga memoar-memoar kecilnya.
entah dengan mereka,mungkin juga tidak.
manusiawi sekali
bila satu orang merindu banyak orang.
karena banyak orang hampir tak mungkin merindu hanya untuk satu orang
kecuali bagi legenda,pahlawan atau apalah
masalahnya saya bukan pahlawan.
hanya seorang yang titik takdir nya tidak berjumpa lagi pada satu titik takdir dr masing-masing mereka.
ah biarlah,biar rindu itu hanya milik saya,itu sudah lebih dr cukup.
selalu ada momen bagi titik-titik takdir yang terpisah untuk bertemu kembali....
mencoba lebih sabar menunggu,walau saya pun tak tahu nafas akan berakhir kapan.

entahlah,tak terasa jadi menulis sebanyak ini
sudahi saja sejenak,kembali menjemput realita
mungkin kekosongan adalah kunci untuk membuka hati lebih dalam
ya,kosong memang terlahir tanpa sebab
karena kosong sendiri adalah sebab.... :)