Orang tua.2 kata yg menggambarkan pengemban amanah dr Allah,ya amanah itu adalah kita.2 kata yg menggambarkan org yg pertama kali kita lihat saat membuka mata di dunia.2 kata yang menggambarkan 2 sosok manusia,tempat kita kembali,dan yg pertama setelah Allah SWT.bahkan sy bs bilang bahwa kata2 pun tak bs menggambarkan apa arti org tua it sebenarnya,it bukan hal yg patut diusik,karena hal itu juga tak perlu dikorek.sudah jelas.hanya saja,saya ingin curhat sedikit. (haduh lagi2 lewat blog -,-).hhe keadaan saya juga agak limbung hari2 ini,bukan dr akademis saya.tp lebih ke hubungan anak-ortu.
#np:efek rumah kaca-lagu kesepian
Hari minggu.hari yg sejatinya jd hari yg cerah buat kembali ke tempat menjunjung ilmu,berubah drastis jd hari yg suram.sebenarnya g hanya sekali,tp sudah berulang kali.bukan ayah ku,atau ibuku,apalagi aku.tp tanteku.sekali lagi,ia marah2 berhubung ak jarang menghubungi ayah,karena tanteku juga disindir ayah (maklum,ak memang meminta tanteku jd pendamping di sby 1 tahun ini,biar ak kembali disiplin) “bagas aja jarang mempersoalkan apa2,knp kamu yg ngeyel lik?”
Persoalan yg memang berbeda dr satu ke satu yg lain,tp tetap satu garis besar yg sama,yaitu intensitas komunikasi ku dgn ortu (keduanya).tanteku selalu mempersoalkan hal itu,sampai2 kalau bisa kuping ini aku cabut saja dan lari dr omelan2 itu.kadang omelan itu terasa memuakkan,krn tak perlu mempersoalkan hal itu terlalu rumit.ya,aku mengakui dan menyadari,sekalipun aku ingin mengelak,akibat dr masalalu itu memang g bs kita nafikan.
#np:the trees and the wild-honeymoon on ice
Sedari lahir,sampai ak lulus sd,ak tinggal dan dididik mbah dari ibu ku,yg otoriter punya gt deh hehe.sejujurnya,dampak dr hal itu sudah terlihat sejak ak “diambil alih” ayah(maksudnya,berhubung mbahku sudah g produktif dan g bisa mbiayai ak lagi)hingga saat smp ak mulai ngekos.ak merasakan betul dampak tak pernah hidup bersama dgn orang tua dr lahir,yg ayahku pulang ke jawa (keduanya kerja di Kalimantan timur) hanya 2 tahun sekali,dan ibuku malah bisa 3 tahun sekali.banyak teman yg bertanya “kamu g kangen,gas?”.”ya kangen lah” jawabku.sejujurnya ak ingin menjawab “sudah biasa”.bahkan parahnya ak sempat merasa hal itu “sudah biasa”.mana nuraniku sbg anak?sudah,bukan hal yg perlu dibahas kali yah aha tp memang kenyataannya begitu.ak sempat ingat saat nenekku membawaku ke rumah ayah saat kecil,ak lebih nempel pada mbahku dripada ayah.ayahku juga sering marah krn hal itu,krn dikira ak di “brainwash” keluarga ibuku,padahal ayah adalah ayahku.ak yg belum mengerti hal2 rumit bgt malah berpikir imej ayah yg “buruk” krn sering marah.(aku memanggil kakek-nenek dgn bapak-ibuk dan ayah-ibu dgn mamak-papa)
Hingga saat 6 sd saat ku tahu ayah-ibu cerai,yg sejatinya terjadi saat ak 3 sd.bukan hal yg “wow”,krn aku sudah bisa berpikir tentunya.tentu reaksiku juga g seperti anak remaja yg di termehek-mehek yg sertamerta memihak salah satu pihak orang tuanya,marah-marah,bahkan g jarang menyumpahi yg mereka angggap salah.kalian BODOH!itu bukan hak kita mengejudge orang tua seperti itu,ada alasan2 yg g perlu kita tau,krn hal itu lebih baik kita g tau.kalaupun kita akhirnya “diberi tahu”,itupun bagiku hanya sekedar tahu.g ada gunanya ngungkit2 hal2 yg bukan semestinya kita riwuk I,krn kita emang g terlibat disitu.yaaaa gila juga ak bisa berpikir kayak gt saat 6 sd.tp ak yakin masih banyak yg lebih dewasa dibanding ak saat itu.ak tak peduli dengan status “cerai” atau apalah.itu hanya status diatas putih men,status abadi org tua kandung sbg yg melahirkan kita di dunia itu g bs dibantahkan.bahkan saat ayah ibuku sudah punya keluarga sendiri,ak tidak merasa ‘terbuang’,krn memang keadaan memaksa begitu (bukan pasrah),dan ak yakin nurani siapapun sbg org tua pasti masih memliliki tanggung jawab bagi anaknya,ya bagi aku sendiri.sejak saat itu,ak terus belajar agar tidak gampang menyalahkan orang tua.ya,kita boleh koreksi perkataan org tua yg sejatinya tak sesuai dgn kita,tp jgn sampai kita dgn gampang menjudge ortu kita.itu bukan hak kita.setiap org tua punya cara mengasihi anaknya sendiri bro.
Yak kembali ke masalah saya yg belakangan ini (sejak diambil ayah).ayah mulai membiayaiku sejak smp,dan ak mulai ngekos (jujur,ak tak menuntut org tuaku membiayaiku,apalagi ibuku).ak agak ‘canggung’ saat awal2,padahal dia ayahku!yassalaaam -,- anak macam apa aku ini.ak jg merasa bersalah karena saat hidup bersama nenekku,ak sangat-berprestasi-sekali.juara menggambar,juara aritmatika provinsi,rangking 1 5 kali.tp sejak bersama (g bersama ding,Cuma mbiayai aja hehe) ayah,aku smp nilai pas2an,sma aku masuk kelas “bahasa” (pas itu kelas ipa jd trend bo’),lalu kuliah ini aku,bisa ak bilang,di-DO! (ak men-DO kan diriku sendiri).gila!anak macam apa aku ini,ak sempat berpikir kalau ak ada di posisi ayah,org tua mana yg g bakal menyesal ataupun menangis jika gagal mendidik anaknya hingga org tua “lepaskan” si anak di pelaminan?g ada satupun!ak kurang kesadaran akan peran ku sebagai anak dan laki dalam keluarga saat itu,trus terang saja.
#np:oasis-don’t look back in anger
Ak merasa it semua g lepas dr kurangnya didikan org tua scr langsung.bukan brarti ak g menganggap mereka “org tua” ku lho ya.ak jg g menyalahkan siapapun.hanya saja,komunikasi serasa bagaimana ya…kadang ak agak iri juga kalau liat teman bisa dengan santainya ngobrol dgn ortu lewat telpon.”pi,papi ak bis ini pulang ya””iyo pak,duwik manganku entek hehehe””oalah iya ma,besok tak balik kesana” dan lain sebagainya.ak sempat bertanya2 “anak2 ini kok bisa seakrab gt sama ortunya,sedangkan ak g.padahal yg diobrolin cuman basa-basi biasa,tak jarang malah minta uang (jujur,ak paling g bs kalau minta apa2 ke orang tua,karena belum ada timbal balik setimpal dr diriku ke orang tua).kapan ak bs gt ya?”.parah mungkin km bs ngejudge ak bro hehe tp coba rasakan kalau km ada di posisiku.setengah tahun umurku hingga saat ini,tanpa didikan org tua.ibaratnya anak ayam yg br menetas,ak tak melihat indukku,tp kucing.ya ak nempelnya sm kucing it.ak malah jd menyalahkan diri sendiri,apa yg ak harus ak lakukan?karena rasanya aneh juga kalo ak guyon2 sama ortu,trkesan geje -,-.temanku juga pernah bilang “halah gas,bapakku dewe wes koyok koncoku dwe hahahancok haha”.enaknya :)
lalu,hubungan anak-ortu it harus bagaimana?
Apakah komunikasi verbal itu memang diperlukan?
Ak g pernah meragukan posisi orang tua sebagai insan yg melahirkan aku,yg ak harus berbakti pada mereka.ak hanya tahu,tanpa banyak bicara,ak akan membalas kepercayaan kalian dgn menjadi org yg bisa kalian banggakan.ak yakin,harapan org tua trhdapa anak it g muluk2,anak2 mereka bisa sekolah baik,kuliah (jika ada kesempatan) yg lancar,lalu bisa mencari kerja yg baik bg mereka (anak),krn tanggung jawab ortu satu-persatu sudah lepas dr situ.memang,ada beberapa jenis ortu yg kadang “ekspektasi” nya besar.biasanya yg gt org yg tergolong sukses dan hartawan.tp it smua tak lepas dr masalalu mereka men!demikian juga ayahku.ayahku dulu jualan es sama ngangkut pasir,kalau sekolah tawur terus.kalau ibuku dr lahir sudah enak,salon nomer 3 terbaik di Indonesia (sumpah,ak jg kaget liat piagamnya),tp semenjak cerai garis hidup it serasa dibalik,ayahku diatas,ibuku dibawah.g ada org yg bs diatas tanpa terpuruk.krn itu,mereka ingin anak mereka (sebisa mungkin) agar tidak sejerih usaha ortu mereka.toh dgn kkuatan financial ortu yg seperti itu,mereka dan kita,y sbg anak,bisa skolah setinggi mungkin.jd turutilah apa mau ortu,selama masih bisa membiayai,dgn input2 pndapatmu pula tentunya.
ah ak sadar akan hal itu tp sulit menerapkannya.sampai sekarang ak masih mengabur tentang hubungan anak-ortu sehari2.apa yg harus ak lakukan?ak kadang g paham akan hal ini,kawan.aku bertanya langsung pun,rasanya memalukan sekali.hal sekecil itu masih perlu sipertanyakan?mungkin itu jwab mereka.anak macam apa aku ini?tp aku benar2 sayang org tua ku,tp mungkin caraku ada yg salah,tp g tau harus gimana.aku harus bagaimana?ak minta penjelasanmu, kawan…..